Mataram, insightntb.com – Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) NTB, Herianto, menyatakan dukungannya terhadap sikap tegas Wali Kota Mataram sekaligus Ketua DPD Partai Golkar NTB, H. Mohan Roliskana, yang menegaskan tidak memberikan ruang terhadap upaya normalisasi perilaku LGBT di Kota Mataram.

Advertisement

Menurut Herianto, pernyataan tersebut harus dipahami sebagai bentuk tanggung jawab seorang pemimpin dalam menjaga nilai-nilai sosial, budaya, dan religius yang hidup di tengah masyarakat NTB, sekaligus sebagai langkah untuk memastikan pembangunan sumber daya manusia tetap berjalan sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.

“Sebagai Ketua AMPG NTB, saya mendukung sikap tegas Bapak H. Mohan Roliskana. Apa yang beliau sampaikan bukanlah bentuk kebencian terhadap individu tertentu, melainkan komitmen seorang pemimpin dalam menjaga norma sosial, nilai agama, dan budaya yang menjadi identitas masyarakat Kota Mataram dan NTB secara umum,” ujar Herianto.

Ia menilai, di tengah tantangan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045, perhatian pemerintah seharusnya difokuskan pada penguatan kualitas generasi muda melalui pendidikan, inovasi, kewirausahaan, penguasaan teknologi, dan pembangunan karakter.

“Anak muda Indonesia hari ini membutuhkan ruang yang lebih besar untuk berprestasi, berinovasi, membangun usaha, menguasai teknologi, dan menjadi pemimpin masa depan. Energi bangsa tidak boleh habis pada polemik yang justru menggeser fokus kita dari agenda besar pembangunan sumber daya manusia,” tegasnya.

Herianto mengatakan bahwa ketegasan Wali Kota Mataram merupakan alarm bagi semua pihak agar lebih serius mempersiapkan generasi penerus bangsa yang unggul dan berdaya saing global.

“Kita ingin anak-anak muda NTB dikenal karena prestasi akademiknya, karya inovasinya, jiwa kewirausahaannya, serta kontribusinya bagi bangsa dan negara. Regenerasi kepemimpinan nasional harus dibangun di atas fondasi moral, integritas, disiplin, dan tanggung jawab yang kuat,” katanya.

Menurut tokoh muda nasional asal Lombok Timur tersebut, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.

Ia kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah At-Tahrim ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Sebagai pemimpin daerah, tentu Bapak Mohan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehidupan sosial masyarakat tetap kondusif dan selaras dengan nilai-nilai yang diyakini masyarakat. Sikap tersebut patut dihormati sebagai bagian dari amanah kepemimpinan,” ujarnya.

Meski demikian, Herianto mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap mengedepankan sikap saling menghormati dan menjaga persatuan.

“Kita menghormati setiap warga negara sebagai manusia yang memiliki martabat dan hak yang harus dihormati. Namun dalam saat yang sama, pemerintah juga memiliki kewajiban menjaga norma sosial, norma agama, dan nilai budaya yang menjadi kesepakatan hidup bersama. Kedua hal tersebut harus berjalan secara seimbang demi menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.

Herianto menegaskan bahwa masa depan Indonesia akan ditentukan oleh kualitas karakter generasi mudanya.

“Indonesia Emas 2045 tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas moral generasi penerusnya. Karena itu saya mendukung langkah-langkah yang bertujuan memperkuat ketahanan sosial, pendidikan karakter, dan nilai-nilai kebangsaan. Mari kita fokus pada agenda besar bangsa, yaitu menciptakan generasi muda yang unggul, berakhlak, produktif, dan siap memimpin Indonesia di masa depan,” tutup Herianto.