Opini, insightntb.com – Pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an merupakan konsep yang integral, mencakup pengembangan aspek intelektual, spiritual, moral, dan sosial manusia secara seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji wawasan Al-Qur’an tentang pendidikan sebagai landasan normatif dalam pembentukan manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu’i), yaitu menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan, kemudian dianalisis secara komprehensif.

Advertisement

Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menempatkan pendidikan sebagai proses transformasi manusia menuju kesempurnaan (insan kamil), yang ditandai dengan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan keimanan. Konsep pendidikan dalam al-Qur’an mencakup tiga aspek utama, yaitu tarbiyah (pengembangan dan pemeliharaan), ta’lim (proses pengajaran ilmu), dan ta’dib (pembentukan adab dan akhlak). Selain itu, Al-Qur’an juga menekankan pentingnya metode pendidikan yang humanis, dialogis, dan kontekstual, seperti melalui hikmah, nasihat yang baik, dan keteladanan.

Dengan demikian, wawasan Al-Qur’an tentang pendidikan memberikan dasar filosofis dan praktis bagi pengembangan sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembinaan karakter dan spiritualitas. Konsep ini relevan untuk dijadikan rujukan dalam membangun pendidikan yang holistik dan berkelanjutan di era modern.

Al-Quran secara sederhana sangat lengkap dan luas penjelasannya hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Syekh Ali Ash-Shabuni yaitu kalam Allah yang mu`jiz, diturunkan kepada Nabi dan Rasul penghabisan dengan perantaraan Malaikat Jibril, yang dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas. Secara sederhana Al-Quran dipahami sebagai sarana komunikasi Allah kepada umat manusia sehingga setiap kisah yang ada di dalamnya berfungsi sebagai pendidikan dan petunjuk serta suri tauladan serta setiap informasi pengetahuan yang ada didalamnya menjadi sumber bagi menusia untuk digali dan dipelajari.

Kalamullah ini mempunyai fungsi sebagai petunjuk atau penerang jalan hidup bagi manusia yang hidup di dunia ini, yang membedakan antara baik dengan buruk, benar dengan yang salah, yang mengarahkan manusia banyak hal kepada berbagai persoalan-persoalan tentunya yang hal utama tentang keyakinan, etika, prinsip ibadah, muamalah sampai kepada asas-asas pendidikan.

Khusus mengenai pendidikan, Al-Quran menjelaskan secara mendalam tentang wawasan dan motivasi kepada manusia agar mendalami, mengkaji, memperhatikan dan meneliti isi alam sebagai manifestasi kekuasaan Allah hingga mengaplikasikan sebagai lentera hidup bagi manusia.

Dari hasil pengkajian yang dilakukan oleh manusia terhadap isi dan fenomena alam sehingga melahirkan sebuah ilmu pengatahuan sebagai pondasi awal pendidikan ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh rasio manusia sebagaimana yang terkandung di dalam al-Qur’an tentang pendidikan (at Tarbiyya. Mengenai makna tarbiyah ada beberapa ahli tafsir berbeda pendapat dalam mengartikan kata tarbiyah.

Misalnya yang dikemukan oleh Ahmad Tafsir Tarbiyah merupakan arti dari kata pendidikan yang berasal dari tiga kata, yakni: rabba-yarbu yang bertambah, tumbuh; rabbiya-yarbaa berarti menjadi besar; dan rabba-yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, memelihara.

Di samping itu juga istilah tarbiyah berasal dari bahasa arab, yang mana fiil tsulasi mujarrad, Rabaa yang berarti: Zaada (Bertambah), Nasya-a (Tumbuh, bertambah besar), alaha berarti: Mendaki. Adapun makna Tarbiyah dalam Lisanul Arab “Rabba, Yurabbu, Tarbiyatan” yang berarti: Malik Raja/penguasa.

Namun demikian, para ahli pendidikan dulu seperti Muhammad At Toumy, Al-Syaibany, Munir Mursyi, athiyah Al Abrasyi, Ahmad Tsalabi, Muhammad Qutub, Ali Khalil Abul Ainain, Ibn Sina, ibn Taimiyah dan masih banyak lagi mereka lebih suka menggunakan kata Tarbiyyah dalam pengertian pendidikan ketimbang kata lain.

Di samping itu, hasil dari seminar internasional yang pertama pendidikan Islam yang dilaksanakan di Jeddah pada tahun 1977, yakni (First World Conference on Muslim Education) di Universitas King Abdul Aziz, menghasilkan bahwa pendidikan menurut Islam dapat didefinisikan dalam tiga istilah, yaitu Tarbiyah, Ta’lim dan Ta’dib secara bersama-sama.

Kendatipun demikian, apabila al tarbiyyah diindektikan dengan al Rabba, maka al tarbiyah berarti pemilik, tuan, yang maha memperbaiki, yang maha mengatur, yang maha mengubah dan yang maha menunaikan. Term al tarbiyyah pada dasarnya pengertian yang sangat luas, selain tersebut di atas ada juga pengertianya sebagai menguasi, memelihara, memberi makan, menumbuhkan, mengembangkan dan juga mendidik, ini yang cukup luas maknanya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Karman dalam bukunya, bahwa Tarbiyyah secara etimlogi merupakan bentuk masdar dari kata Rabba, kendati pun walapaun tidak disebutkan secara eksplisit dalam al qur’an, tetapi term turunannya seperti al-rabb, rabbayani, nurabbi, rabbiyun dan rabbni berjumlah cukup banyak dalam al-Qur’an. Di sisi lain kata tarbiyyah sebagaimana dijelaskan oleh Naquib al-Atas yang dikutip oleh Ramayulis berpendapat. Semenjak datangnya Islam makna pendidikan sudah digunakan pada saat itu, namun pada waktu itu hanya dipakai dua istilah saja, yaitu tarbiyah dan ta’dib.

Kata tarbiyah tidak secara khusus ditujukan untuk mendidik manusia, akan tetapi banyak dipakai kepada spesies lain seperti mineral, tanaman dan hewan. Sedangkan istilah ta’dib mengarah pada pengertian (‘ilm), pengajaran (ta’lim) dan bimbingan yang baik (tarbiyah). Jadi, tarbiyah dalam penjelasan Naquib hanya salah satu bagian dari ta’dib.

Berdasarkan berbagai penjelasan di atas secara umum kata tarbiyah dapat dikembalikan kepada tiga kata kerja yang berbeda dan mempunyai kaitan makna Pertama, raba yang berarti berkembang; kedua, nama yanmu yang berarti tumbuh, dan ketiga dari kata rabba-yaribbu yang berarti memperbaiki, mengurus, memimpin, menjaga, memelihara atau mendidik.

Al- Tarbiyah adalah proses pengembangan, pemeliharaan, penjagaan, pengurusan, penyampaian ilmu, pemberian petunjuk, bimbingan, penyempurnaan, dan perasaan memiliki bagi anak didik baik jasad, akal, jiwa, bakat, potensi, perasaan, secara berkelanjutan, bertahap, penuh kasih sayang, penuh perhatian, kelembutan hati, menyenangkan, bijak, mudah diterima, sehingga membentuk kesempurnaan fitrah manusia, kesenangan, kemuliaan, hidup mandiri, untuk mencapai ridha Allah swt.

Berdasarkan pemahaman ini, tentu al-Quran sangat berperan dalam memberikan motivator dan inspirator bagi kita untuk membaca, mengkaji serta mengemalkannya. Al-Quran juga menganjurkan umat Islam untuk bersungguh-sungguh pada pencarian pendidikan, dikarenakan dunia sekarang dan bahkan dimasa yang akan datang akan dikuasai oleh IPTEK (Ilmu Pendidikan dan Teknologi), oleh sebab itu, siapa saja yang menguasai keduanya maka secara lahiriah akan menguasai dunia.

Dengan kata lain pendidikan Islam itu sendiri mengarah kedua hal, yaitu, pertama membentuk mental peserta didik agar nilainilai Islam melekat pada kehidupan pribadi peserta didik. kedua agar peserta didik lebih memahami nilai-nilai Islam, maka masukkan ayat-ayat mengenai pendidikan ke dalam bidang bidang studi yang lebih banyak.

Perlu disadari bersama bahwa adanya isyarat al-Qur’an tentang pendidikan sebagai bukti kebesaran mukjizatNya. Penjelasan yang terkandung dalam kalamullah ini tidak hanya terbatas pada pendidikan yang bersifat science atau bersifat empirik dan fisik sebagai fenomena, tetapi lebih dari itu.

Penulis adalah Muhammad Rifky Akbar Sahrul, S.H., M.H.