Mataram, insightntb.com – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kota Mataram yang digelar oleh Aliansi Mahasiswa dan Rakyat NTB berakhir ricuh pada Selasa (5/5/2026).

Advertisement

Aksi yang semula berjalan damai ini berubah menjadi ketegangan massal setelah massa aksi terlibat bentrok dengan aparat kepolisian di depan Kantor Gubernur NTB.

Long March dan Refleksi Gabungan Hardiknas-May Day

Massa mulai memadati Taman Sangkareang sejak pukul 10.00 WITA. Unjuk rasa kali ini tidak hanya memperingati Hardiknas, tetapi juga membawa semangat Hari Buruh Internasional (May Day) sebagai bentuk kritik terhadap sistem pendidikan dan kondisi ekonomi yang dinilai kian membebani masyarakat.

Sekitar pukul 10.38 WITA, berbagai elemen mahasiswa, termasuk Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Mataram dari berbagai universitas, melakukan long march menuju pusat pemerintahan. Sambil membentangkan spanduk tuntutan, massa menyuarakan desakan agar pemerintah segera memperbaiki akses pendidikan dan meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat.

Situasi Memanas Akibat Nihilnya Respons Pemerintah

Ketegangan mulai memuncak saat massa tiba di depan Kantor Gubernur NTB pada pukul 13.45 WITA. Setelah menggelar mimbar bebas selama hampir satu jam tanpa ditemui oleh perwakilan pemerintah daerah, emosi massa mulai tersulut sekitar pukul 14.12 WITA.

Bentrokan fisik tak terhindarkan ketika aparat kepolisian mencoba membubarkan massa. Sejumlah mahasiswa dilaporkan mengalami luka-luka dan tindakan represif berupa pemukulan, termasuk salah satu anggota FMN yang harus mendapatkan penanganan medis.

“Kami Datang untuk Dialog, Bukan Kekerasan” tegas koordinator aksi Nanang.

Nanang menambahkan, sangat disayangkan tindakan keras aparat mencederai demokrasi. Ia menegaskan bahwa mahasiswa turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi substantif, namun justru disambut dengan tindakan represif.

“Kami datang dengan damai untuk menuntut hak rakyat atas pendidikan yang layak dan kesejahteraan yang adil. Namun, ketidakhadiran pejabat publik untuk berdialog dan respons represif aparat justru menunjukkan wajah pemerintah yang antikritik. Kejadian hari ini menjadi bukti bahwa suara mahasiswa masih dianggap ancaman, bukan masukan,” tegas Nanang saat diwawancarai di lokasi kejadian.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Pemerintah Provinsi NTB maupun Polresta Mataram belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut maupun jumlah pasti korban luka dari pihak mahasiswa.