Opini, insightntb.comRimpu merupakan cara berbusana khas perempuan Bima (Mbojo) yang menggunakan dua helai kain sarung (tembe Nggoli). Fenomena ini bukan sekadar cara berpakaian, melainkan simbol identitas yang mempertemukan kepatuhan terhadap syariat Islam dengan kearifan lokal.

Advertisement

Artikel ini mengkaji bagaimana Rimpu menjadi jembatan antara kewajiban menutup aurat dan pelestarian budaya, serta bagaimana nilai-nilai Islam termanifestasi dalam perilaku sosial masyarakat Bima melalui tradisi ini.

Masyarakat Bima dikenal dengan filosofi “Maja Labo Dahu” (Malu dan Takut). Filosofi ini menjadi fondasi bagi seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam berbusana. Rimpu lahir sebagai respon kreatif perempuan Mbojo terhadap masuknya ajaran Islam di Kesultanan Bima pada abad ke-17.

Sebelum jilbab modern populer, Rimpu telah menjadi identitas visual yang membedakan status sosial dan menjaga martabat perempuan muslimah di wilayah tersebut.

Secara teologis, Rimpu adalah manifestasi dari pemahaman masyarakat Bima terhadap perintah menutup aurat. Penggunaan dua lembar kain satu untuk menutupi bagian bawah hingga kaki, dan satu untuk menutupi bagian atas hingga kepala (kecuali wajah bagi yang sudah menikah) selaras dengan konsep hijab dalam Islam.

  • Rimpu Cili: Menutup seluruh wajah kecuali mata, diperuntukkan bagi gadis (kadodo) sebagai bentuk proteksi diri yang sangat ketat.
  • Rimpu Colo: Menampakkan wajah, diperuntukkan bagi perempuan yang sudah berkeluarga.
    Nilai Islam dalam Rimpu tidak berhenti pada penutup kain saja, melainkan termanifestasi dalam:
  • Iffah (Menjaga Kehormatan): Rimpu menciptakan batasan suci antara perempuan dan lawan jenis yang bukan mahram di ruang publik.
  • Keadilan Sosial: Penggunaan bahan yang relatif sama (sarung tenun) meminimalisir kesenjangan status sosial di antara masyarakat, menciptakan rasa kesetaraan di depan Tuhan.
  • Integrasi Budaya: Rimpu membuktikan bahwa menjadi muslimah yang taat tidak berarti harus meninggalkan atribut lokal. Identitas “Muslim-Bima” menjadi entitas yang tunggal dan harmonis.

Rimpu adalah mahakarya kebudayaan yang membuktikan bahwa syariat Islam dapat berakulturasi dengan indah tanpa kehilangan esensinya. Ia adalah identitas yang dinamis; sebuah manifestasi dari nilai-nilai Maja Labo Dahu yang diaplikasikan dalam wujud busana. Di tengah arus modernisasi, Rimpu tetap menjadi simbol keteguhan perempuan Bima dalam menjaga marwah diri, agama, dan tanah leluhurnya.

Hal ini menunjukkan bahwa syariat tidak datang untuk menghapus budaya, melainkan mewarnai kebudayaan tersebut dengan nilai-nilai kesantunan. Pawai rimpu baru-baru ini dilaksnakan pada hari Sabtu, 25 April 2026 di Kota Bima bertepatan dengan hari Lahirnya Kota Bima yang ke-24 tahun, dengan hadir festival “Rimpu Mantika” tersebut harapannya tidak sekedar menjadi kegiatan seremonial semata, melainkan kesadaran kan budaya dan etika keislaman, bahwa dalam islam di ajarkan oleh syariat bagi perempuan untuk menutup aurat secara sempurna.

Rimpu bukan sekadar tumpukan kain Tembe Nggoli yang membalut tubuh. Ia adalah dialog bisu antara syariat yang turun dari langit dengan tradisi yang tumbuh dari bumi Mbojo. Di dalamnya, termaktub filosofi Maja Labo Dahu sebuah rasa malu yang menjaga kehormatan dan rasa takut yang menghidupkan integritas.

Ketika seorang muslimah Bima melingkarkan sarung tenunnya menjadi Rimpu Cili atau Colo, ia tidak sedang membatasi geraknya, melainkan sedang membangun benteng martabat yang menegaskan bahwa kecantikan sejati adalah kesalehan yang terjaga.

Harapan besar tersampir pada setiap lipatan kain tersebut. Di tengah arus modernisasi yang menawarkan beragam identitas tanpa akar, muslimah Bima diharapkan tetap teguh menjadikan menutup aurat sebagai jangkar kehidupan.

Harapannya, Rimpu dan busana muslimah bukan sekadar menjadi kostum seremonial, melainkan menjadi identitas yang hidup identitas yang menyatukan kecerdasan berpikir dengan keanggunan bersikap.

Pada akhirnya, menutup aurat bagi perempuan Mbojo adalah sebuah “tenunan” panjang. Ia menghubungkan masa lalu kesultanan yang religius dengan masa depan generasi yang progresif.

Dengan tetap memegang teguh syariat dan menghargai warisan leluhur, muslimah Bima akan terus melangkah sebagai sosok yang mulia: yang wajahnya memancarkan ketenangan iman, dan pakaiannya menceritakan keagungan sebuah peradaban.

 

Penulis adalah Muhammad Rifky Akbar Sahrul Mahasiswa Doktoral (S3) Pascasarjana UIN Alauddin Makassar