Selong, insightntb.com – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day), aliansi pemuda yang tergabung dalam Komunitas Semeton Korleko Besopok (SKB) bersama Ikatan Mahasiswa Korleko Mataram (IMKM) dan gabungan lintas komunitas sektoral menggelar forum “Rembug Warga”. Kegiatan yang dipusatkan di Gubuk Pande, Desa Korleko Induk, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat ini berlangsung pada Sabtu (6/6/2026).
Agenda ini menjadi ruang konsolidasi sekaligus mimbar bebas bagi warga lokal untuk menyuarakan keresahan atas rusaknya ekosistem ruang hidup mereka akibat gurita bisnis tambang pasir atau galian C yang telah mengeksploitasi wilayah tersebut selama hampir 16 tahun.
Forum “Rembug Warga” diawali dengan pemutaran film dokumenter berjudul Galian Celaka, sebuah karya audiovisual yang merekam langsung dampak destruktif industri ekstraktif terhadap lingkungan lokal. Usai pemutaran film, diskusi interaktif bergulir hangat dipenuhi keluhan dari perwakilan masyarakat yang selama belasan tahun ini merasa dikorbankan.
“Dulu, sebelum ada tambang pasir ini, kami sangat cepat mendapatkan akses air. Namun sejak tambang beroperasi, kami kesulitan setengah mati untuk memperoleh air bersih,” keluh Sri, salah satu warga Gubuk Pande yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Sri juga mengakui bahwa minimnya edukasi membuat masyarakat awam tidak mengetahui parameter kualitas maupun ambang batas pH air bersih yang masih layak dan aman untuk dikonsumsi harian. Keresahan serupa juga dilontarkan oleh seorang warga senior setempat yang mengenang masa lalu desanya.
“Dulu Desa Korleko ini sangat asri dan alami. Sekarang semuanya rusak karena tambang pasir. Jangankan manusia, bahkan hewan pun sudah tidak mau lagi mandi di Kali Rumpang karena airnya sudah berubah warna menjadi cokelat pekat bercampur oli,” cetusnya dengan nada kecewa.
Aktivitas eksploitasi di Desa Korleko dinilai menjadi bukti nyata bahwa industri pertambangan tidak pernah memberikan kesejahteraan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat lingkar tambang. Sebaliknya, tambang dituding hanya meninggalkan teror lingkungan bagi masa depan generasi lokal. Warga secara terbuka mengkritik sikap pemerintah daerah dan Aparat Penegak Hukum (APH) yang dinilai pasif, bahkan dituding berpihak pada oligarki pemilik tambang di Lombok Timur. Ironisnya, warga menyebut ada oknum anggota DPRD aktif yang justru ikut serta mengelola bisnis tambang pasir tersebut.
Guguh Putra, menegaskan bahwa forum ini dibentuk sebagai titik temu untuk menyatukan visi kaum muda dengan masyarakat adat setempat.
“Forum ‘Rembug Warga’ ini sengaja kami desain sebagai pemantik kesadaran kolektif. Selama 16 tahun, masyarakat dipaksa berdamai dengan kerusakan tanpa tahu harus mengadu ke mana. Kehadiran SKB dan IMKM malam ini bukan sekadar seremonial Hari Lingkungan Hidup, melainkan komitmen awal untuk mendampingi warga melawan ketidakadilan ekologis ini. Kami menyatukan barisan karena perlawanan terhadap oligarki tambang harus dimulai dari kesamaan persepsi di akar rumput,” tegas Guguh Putra, Sabtu (6/6/2026).
Sementara itu, Mariadi, pegiat lingkungan yang konsisten mengawal isu tata ruang di Nusa Tenggara Barat, menyoroti pencemaran Kali Rumpang dan keterlibatan oknum pejabat publik.
“Pencemaran oli dan sedimentasi lumpur di Kali Rumpang yang diceritakan warga tadi sudah masuk kategori pelanggaran hukum lingkungan berat. Sangat miris ketika warga berjuang mempertahankan hak atas air bersih, oknum wakil rakyat di DPRD justru ikut menikmati keuntungan dari bisnis tambang galian C yang merusak ini. Kami mendesak adanya audit lingkungan menyeluruh dan penegakan hukum tanpa tebang pilih terhadap seluruh izin tambang di Lombok Timur,” tuntut Mariadi dengan lugas.
Sebagai penutup forum, masyarakat bersama mahasiswa membacakan pernyataan sikap tegas menolak pembiaran kerusakan alam Korleko. Agenda malam ini juga menjadi momentum pengenalan eksistensi komunitas SKB dan IMKM kepada publik Korleko Induk. Sebagai langkah konkret pasca-diskusi, aliansi ini akan melanjutkan pergerakan melalui aksi turun ke lapangan bertajuk “Menanam Melawan” Jilid II yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 7 Juni 2026.


