Sekotong, insightntb.com – Lelah hanya diberikan janji manis oleh pemangku kebijakan, warga Dusun Medang, Desa Teluk Gok, Kecamatan Sekotong, memilih untuk bertindak nyata. Pada Jumat (15/5/2026), puluhan warga menggelar aksi gotong royong memperbaiki jalan sepanjang 2,5 kilometer secara swadaya sebagai bentuk protes atas absennya perhatian pemerintah.

Advertisement

Aksi gotong royong ini tergolong unik karena dilakukan sembari memutar musik kencang di sepanjang jalur perbukitan yang tengah diperbaiki. Mulai dari irama dangdut, melodi Bollywood, hingga lagu daerah Sasak menggema dari pelantang suara sebagai “suplemen” penghalau lelah sekaligus simbol perlawanan terhadap bisingnya kekecewaan warga.

Akses jalan yang menjadi urat nadi ekonomi dan jalur utama anak-anak menuju sekolah ini kondisinya sangat memprihatinkan. Saat musim hujan, jalanan tersebut berubah menjadi kubangan lumpur, sementara saat kemarau berubah menjadi ladang debu yang menyesakkan.

Kekecewaan Mendalam Terhadap Janji Politik

Fitri, salah seorang warga yang ikut dalam aksi tersebut, mengungkapkan bahwa aspirasi masyarakat seolah-olah tidak pernah didengar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat.

“Kami sudah capek. Setiap ada pergantian pemimpin, usulan perbaikan jalan ini selalu disuarakan, tapi tidak pernah ada kejelasan,” tegas Fitri saat ditemui di lokasi gotong royong, Jumat (15/5).

Ia menambahkan bahwa hiburan musik yang diputar bukanlah tanda sukacita, melainkan cara warga menjaga kewarasan di tengah mosi tidak percaya terhadap janji kampanye yang kerap menguap.

“Ibu-ibu katanya kurang semangat kalau tidak mendengarkan musik. Aspirasi kami seolah hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Hampir setiap minggu kami bergotong royong begini agar anak-anak bisa lewat saat sekolah,” keluhnya.

Kondisi ini memicu tanda tanya besar dari masyarakat terkait alokasi Anggaran Dana Desa (ADD) yang seharusnya menyentuh infrastruktur di pelosok. Warga merasa pembangunan hanya menjadi dokumen rencana yang tebal tanpa realisasi nyata di lapangan.

Melalui “konser” kecil di tengah jalan rusak ini, warga Dusun Medang berharap para pemangku kebijakan tidak lagi menutup mata. Mereka kini tidak lagi menanti janji, melainkan aspal nyata yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari. “Semoga suara rakyat ini didengar,” pungkas Fitri penuh harap.