Opini, insightntb.com – Di tengah meningkatnya persaingan antar daerah dalam menarik arus wisatawan, sektor pariwisata kini tidak lagi sekadar bergantung pada keindahan alam, tetapi juga pada kemampuan menciptakan pengalaman yang terencana dan berkelanjutan.
Dalam hal tersebut, Nusa Tenggara Barat (NTB) memilih langkah agresif dengan menghadirkan 70 event sepanjang 2026 sebagai strategi utama penggerak pariwisata.
Kebijakan ini tidak hanya menunjukkan ambisi pemerintah daerah, tetapi juga mencerminkan keyakinan bahwa peningkatan jumlah aktivitas wisata dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara langsung.
Keyakinan tersebut diperkuat oleh pernyataan Ahmad Nur Aulia selaku Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menargetkan 2,5 juta kunjungan wisatawan dan bahkan berharap angka tersebut dapat melampaui target melalui kolaborasi lintas pelaku pariwisata.
Dengan demikian, strategi ini secara implisit menempatkan event sebagai instrumen utama dalam menciptakan daya tarik destinasi.
Pendekatan ini menunjukkan pergeseran orientasi pembangunan pariwisata dari berbasis sumber daya alam menuju berbasis pengalaman (experience-based tourism) yang dalam praktik global sering digunakan untuk meningkatkan daya saing destinasi.
Namun, jika dipahami lebih dalam, pendekatan ini masih menimbulkan pertanyaan kritis terkait hubungan antara kuantitas event dan kualitas dampak yang dihasilkan.
Meskipun banyaknya event berpotensi menciptakan arus kunjungan yang lebih merata sepanjang tahun, hal tersebut tidak serta-merta menjamin adanya kontribusi ekonomi yang signifikan.
Kondisi ini terjadi karena tidak semua event memiliki daya tarik yang sama, sehingga tanpa kurasi yang jelas, sebagian kegiatan berpotensi hanya menjadi agenda seremonial yang kurang menarik bagi wisatawan luar daerah.
Akibatnya, peningkatan jumlah event justru dapat menghasilkan fragmentasi dampak, di mana aktivitas meningkat tetapi manfaat ekonominya tidak terdistribusi secara optimal.
Dalam kondisi seperti ini, ukuran keberhasilan tidak lagi cukup dilihat dari jumlah event atau jumlah kunjungan, tetapi perlu bergeser pada indikator yang lebih substantif seperti pengeluaran wisatawan, durasi tinggal, serta keterlibatan ekonomi masyarakat lokal
Di sisi lain, optimisme yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) juga perlu dikaitkan dengan kesiapan destinasi sebagai faktor pendukung utama. Hal ini penting karena event hanya berfungsi sebagai pemicu kunjungan awal, sementara pengalaman wisatawan selama berada di lokasi menjadi penentu utama keberlanjutan kunjungan di masa depan.
Oleh karena itu, apabila aspek fundamental seperti kebersihan, aksesibilitas, dan kualitas layanan belum dikelola secara konsisten, maka strategi berbasis event berisiko menimbulkan ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas yang dirasakan wisatawan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini justru dapat melemahkan citra destinasi yang sedang dibangun. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata tidak dapat hanya bertumpu pada aktivitas event, tetapi harus didukung oleh sistem destinasi yang terintegrasi dan berstandar.
Lebih lanjut, tantangan lain yang tidak kalah penting terletak pada aspek distribusi eksposur dan promosi. Banyaknya event yang diselenggarakan tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak diiringi dengan strategi komunikasi yang efektif. Hal ini menyebabkan sebagian event yang memiliki nilai budaya tinggi justru kurang dikenal, sementara event yang memiliki dukungan promosi lebih kuat cenderung mendominasi perhatian publik.
Dengan demikian, persoalan utama tidak hanya terletak pada produksi event, tetapi juga pada kemampuan mengelola narasi dan visibilitas di ruang digital secara strategis.
Dalam konteks ini, peran media digital dan strategi branding destinasi menjadi krusial karena mampu menentukan apakah sebuah event memiliki jangkauan lokal atau mampu menembus pasar nasional hingga internasional.
Pada akhirnya, strategi yang dijalankan oleh Pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan langkah progresif dalam menggerakkan sektor pariwisata, namun masih memerlukan penguatan pada aspek kualitas, kurasi, dan tata kelola.
Keberhasilan tidak cukup diukur dari tercapainya target 2,5 juta kunjungan, tetapi dari sejauh mana setiap event mampu menciptakan pengalaman yang bermakna serta memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal.
Dalam konteks tersebut, strategi 70 event seharusnya tidak dipahami sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen untuk memperkuat ekosistem pariwisata secara menyeluruh.
Artinya, setiap event perlu terintegrasi dengan kesiapan destinasi, kualitas infrastruktur, serta kemampuan pengelolaan yang konsisten, sehingga tidak berhenti sebagai aktivitas jangka pendek yang bersifat seremonial.
Lebih dari itu, arah pengembangan ke depan perlu bergeser dari sekadar memperbanyak kegiatan menuju penguatan kualitas pengalaman wisata.
Hal ini penting agar Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya mampu menarik kunjungan, tetapi juga membangun loyalitas wisatawan melalui pengalaman yang berkesan dan layak direkomendasikan.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan pariwisata tidak lagi terletak pada seberapa ramai sebuah destinasi dalam angka, tetapi pada seberapa kuat nilai, identitas, dan kepercayaan yang mampu dibangun.
Di titik inilah Nusa Tenggara Barat (NTB) diuji, apakah mampu bertransformasi dari sekadar penyelenggara event menjadi destinasi yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Penulis adalah Erika Fajar Subhekti, Mahasiswa S3 Pengembangan SDM, Pascasarjana Universitas Airlangga


