Lombok Timur, insightntb.com – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di Lombok Timur jadi sorotan serius dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah daerah pun langsung bergerak cepat merespons situasi yang sempat memicu keresahan warga.
Direktur LSM Garuda, M. Zaini, mengapresiasi langkah cepat Pemkab setelah pihaknya melakukan aksi dan berdialog langsung dengan bupati. Ia menilai upaya pemerintah sudah berada di jalur yang tepat untuk mengatasi krisis pasokan.
“Setelah kami melakukan aksi dan mendengar langsung penjelasan dari Bupati Lombok Timur pada hari Senin kemarin, tentu kita patut mengapresiasi langkah pemerintah daerah,” kata Zaini, Rabu (15/4/2026).
Meski begitu, ia mengingatkan pentingnya pengawasan berkelanjutan agar persoalan serupa tidak terulang. DPRD Lombok Timur diminta ikut aktif menyerap aspirasi dan mengawasi distribusi gas subsidi.
Menurut Zaini, lonjakan kebutuhan masyarakat jadi salah satu pemicu kelangkaan. Terutama menjelang musim syukuran ibadah haji yang berlangsung hampir merata di berbagai wilayah.
“Itu juga salah satu penyebab, tetapi juga menunjukkan ekonomi masyarakat sedang tumbuh baik,” ujarnya.
Di sisi lain, Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin mengakui kelangkaan sudah terasa sejak akhir Ramadan. Ia menyebut isu yang tidak benar memicu kepanikan hingga terjadi pembelian berlebih atau panic buying.
Tak hanya itu, temuan di lapangan menunjukkan adanya penyalahgunaan distribusi. Gas bersubsidi justru digunakan oleh pihak yang tidak berhak, termasuk pelaku usaha seperti peternak ayam.
“Masih banyak yang tidak boleh pakai ternyata menggunakan elpiji 3 kg ini,” tegas bupati.
Pemerintah daerah pun langsung menggelar rapat koordinasi bersama Pertamina, agen, dan pangkalan pada 13 April. Hasilnya, Pemkab mengusulkan tambahan distribusi atau super ekstra dropping untuk menstabilkan pasokan.
Langkah ini diperkuat dengan pengawasan ketat oleh satgas agar distribusi tepat sasaran. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan skema jangka panjang berbasis data desil untuk memastikan subsidi diterima masyarakat yang berhak.
Dari sisi Pertamina, tambahan pasokan sebenarnya sudah mulai dilakukan sejak awal April. Sales Branch Manager Rayon 1 NTB, Tommy Wisnu Ramdan, menyebut ada penambahan sekitar 5.000–6.000 tabung per hari.
Bahkan pasca Idul Fitri, total tambahan mencapai 59 ribu tabung untuk Lombok Timur. Namun, tingginya permintaan membuat distribusi masih terasa belum merata.
Sekda Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik, memastikan stok sebenarnya sudah di atas normal. Pemerintah juga rutin melakukan sidak dan operasi pasar untuk menjaga stabilitas.
Sebelumnya, puluhan warga yang tergabung dalam GEMPUR sempat menggelar aksi di kantor bupati. Mereka mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret karena kelangkaan berdampak langsung pada aktivitas masyarakat.
Koordinator aksi, M. Zaini, menyebut kondisi ini memicu lonjakan harga hingga Rp30 ribu per tabung. Ia juga menyoroti dugaan distribusi ke luar daerah yang memperparah situasi.
Kini, dengan tambahan pasokan dan pengawasan yang diperketat, pemerintah optimistis distribusi elpiji 3 kg segera kembali normal. Sinergi semua pihak dinilai jadi kunci agar krisis serupa tak terulang.


