Lombok Tengah, insightntb.com – Bunda Literasi Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Sinta Agathia Soedjoko Iqbal, menghadiri kegiatan Healing Bale Ceria Literasi (BCL) ke-8 yang digelar di Desa Lanji, Darmaji, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah, Minggu (25/1/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam kesempatan tersebut, Sinta Agathia menyampaikan apresiasi atas konsistensi Bale Ceria Literasi bersama para relawan literasi yang di nilai berperan penting dalam meningkatkan minat baca anak-anak usia dini di NTB.

Menurut Sinta, pendekatan yang dilakukan relawan BCL patut diapresiasi karena mampu menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku melalui metode yang menyenangkan dan tidak kaku.

“Kita sama-sama memahami bahwa NTB masih memiliki tantangan besar dalam budaya literasi generasi muda. Kehadiran relawan seperti Bale Ceria Literasi ini sangat membantu karena mereka menciptakan suasana yang membuat anak-anak mencintai dan menyenangi buku dengan cara yang menyenangkan,” ujar Sinta.

Ia menilai, model pembelajaran literasi yang mengedepankan kenyamanan dan kreativitas sangat efektif dalam membangun kebiasaan membaca sejak usia dini.

Literasi Digital Masih Jadi Pekerjaan Rumah NTB

Sinta Agathia juga menyoroti rendahnya tingkat literasi digital di kalangan generasi muda. Ia menyebut, masih banyak anak-anak dan remaja yang menerima informasi secara mentah tanpa melakukan verifikasi kebenaran sumber.

“Masalahnya, banyak adik-adik kita yang belum terbiasa mencari informasi secara mendalam dan benar. Dalam era digital, informasi sering di anggap benar hanya karena di dapat dalam satu klik. Di sinilah pentingnya literasi, termasuk melalui buku,” tegasnya.

Menurutnya, penguatan budaya literasi menjadi kunci untuk membentuk generasi muda yang kritis dan tidak mudah terpengaruh informasi keliru.

Bunda Literasi NTB Siapkan Program Gelitra 2026

Dalam kesempatan tersebut, Sinta Agathia juga mengungkapkan rencana peluncuran program Gelitra (Gerakan Literasi Tradisional) pada tahun 2026. Program ini akan mengintegrasikan literasi dengan permainan tradisional khas NTB.

“Kami ingin menggabungkan literasi dengan kearifan lokal, khususnya permainan tradisional NTB. Dengan begitu, anak-anak tidak hanya membaca, tetapi juga mengenal budaya daerahnya,” jelasnya.

Kepala Desa Darmaji, Suhaedi, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Bale Ceria Literasi. Ia menilai kegiatan tersebut mampu membuka cakrawala berpikir generasi muda di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi.

“Ini kegiatan yang sangat baik di tengah tantangan globalisasi teknologi yang kadang membuat anak-anak kurang melek literasi. Kegiatan seperti ini mampu membuka wawasan dan cara berpikir anak-anak kita,” kata Suhaedi.

Founder BCL Harap Literasi Jadi Budaya Sejak Usia Dini

Sementara itu, Dayat selaku Pembina sekaligus Founder Bale Ceria Literasi menyampaikan terima kasih kepada Bunda Literasi NTB, Pemerintah Desa Darmaji, serta seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya kegiatan tersebut.

Ia berharap kehadiran Bale Ceria Literasi dapat menjadi pemantik semangat membaca dan membangun budaya literasi yang kuat sejak usia dini di NTB.

“Semoga Bale Ceria Literasi bisa terus menjadi ruang belajar yang menyenangkan dan memotivasi anak-anak untuk mencintai buku sejak dini,” pungkas Dayat.