Mataram, insightntb.com – Wafatnya ulama kharismatik asal Bagu, Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin, pada Kamis (15/10/2026) dalam usia 90 tahun, memicu duka mendalam bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kepergian pengasuh Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu tersebut dinilai sebagai kehilangan besar bagi dunia pendidikan Islam dan dakwah di Pulau Lombok.
Tokoh pemuda NTB, M. Usman Hadi, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas kepulangan sosok ulama sepuh yang akrab disapa Tuan Guru Bagu tersebut.
Menurut Usman, kepergian TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin bukan sekadar duka bagi keluarga dan ribuan santri, melainkan kehilangan figur penting penjaga warisan keilmuan dan moral masyarakat Sasak.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kita kehilangan sosok ulama sepuh yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk ilmu agama, pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat. Wafatnya Tuan Guru Bagu menjadi pengingat bahwa NTB kehilangan salah satu penjaga warisan keilmuan dan nilai-nilai keagamaan,” ujar M. Usman Hadi dalam keterangannya, Sabtu (17/10/2026).
Usman menuturkan, perjalanan hidup TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin merupakan teladan nyata tentang kegigihan menuntut ilmu dan keikhlasan berkhidmat.
Berbekal kedalaman ilmu agama yang ditimba dari Tanah Suci Mekkah, beliau kembali ke tanah kelahirannya di Bagu, Lombok Tengah, untuk merintis lembaga pendidikan yang kini berkembang pesat menjadi Pondok Pesantren Qamarul Huda.
Jejak pengabdian almarhum membuktikan bahwa peran ulama tidak hanya terbatas pada panggung ceramah, melainkan mewujud dalam pembentukan karakter, moral, serta kaderisasi generasi penerus bangsa.
“Warisan beliau menunjukkan bahwa pengabdian seorang ulama juga hadir melalui pendidikan, pembentukan akhlak, serta lahirnya generasi yang meneruskan perjuangan membimbing masyarakat,” jelas Usman.
Lebih lanjut, M. Usman Hadi mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda di NTB, untuk menjadikan momentum berduka ini sebagai dorongan untuk semakin mendekatkan diri pada ilmu pengetahuan dan melanjutkan cita-cita perjuangan almarhum.
Meskipun kepergian seorang ulama tidak dapat ditahan, ajaran, keteladanan akhlak, serta semangat pengabdian yang telah ditanamkan sepanjang hayat harus terus dirawat dan dihidupkan.
“Selamat jalan, Tuan Guru Bagu. NTB berduka, Lombok kehilangan guru agama yang mengabdikan hidupnya untuk dakwah. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, dan memberikan ketabahan bagi keluarga besar serta para santri yang ditinggalkan,” pungkas Usman.


