Lombok Tengah, insightntb.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MIN 1 Lombok Tengah kembali menjadi sorotan publik. Setelah sebelumnya di temukan roti berjamur dalam paket makanan, kini muncul dugaan adanya pengaturan jatah makanan selama empat hari yang di nilai tidak wajar dan berpotensi mengarah pada praktik keuntungan berlebihan.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa paket MBG yang seharusnya di salurkan setiap hari justru di rapel untuk jangka waktu empat hari. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait kualitas makanan, pengelolaan anggaran, serta mekanisme distribusi yang di jalankan oleh pihak terkait.
Sejumlah wali murid mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Mereka menilai, selain menurunkan kualitas konsumsi anak-anak, sistem pembagian seperti ini juga berisiko menimbulkan pemborosan dan penyimpangan. Terlebih, temuan roti berjamur sebelumnya semakin memperkuat kekhawatiran masyarakat terhadap pengawasan program MBG di sekolah tersebut.
“Kalau jatah makanan di rapel empat hari, tentu kualitasnya bisa menurun. Apalagi sebelumnya sudah ada temuan makanan yang tidak layak konsumsi,” ungkap salah satu wali murid yang enggan di sebutkan namanya.
Di sisi lain, dugaan adanya keuntungan berlebihan mencuat seiring dengan perbedaan antara nilai anggaran yang di alokasikan dan kualitas makanan yang di terima siswa. Publik pun mendesak agar pihak berwenang segera melakukan audit dan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di MIN 1 Lombok Tengah.
Program MBG sejatinya di rancang untuk mendukung pemenuhan gizi peserta didik serta meningkatkan konsentrasi belajar. Namun, berbagai persoalan yang muncul justru berpotensi mencederai tujuan utama program tersebut jika tidak segera ditangani secara serius.
Masyarakat banyak berharap, kejadian ini menjadi perhatian semua pihak, terutama orang yang berpengaruh terhadap MBG agar pengelolaan program bantuan pendidikan dilakukan secara transparan, akuntabel, dan benar-benar berpihak pada kepentingan peserta didik.


