insightntb.com – PT Dana Syariah Indonesia (DSI) menjadi sorotan publik setelah ribuan pemberi dana (lender) melaporkan kesulitan mencairkan dana investasi mereka. Berdasarkan catatan Paguyuban Lender DSI, sedikitnya 4.200 lender terdampak dengan total dana tertahan mencapai sekitar Rp1,2 triliun.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Perkara ini mencuat ke ruang publik setelah aktor sekaligus mantan Brand Ambassador DSI, Dude Harlino. Mendampingi para lender yang di duga menjadi korban gagal bayar. Dalam konferensi pers di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2025).

Dude menyampaikan data yang telah di verifikasi oleh paguyuban lender. “Jumlah lender yang terdata saat ini sekitar 4.200 orang dengan nilai dana tertahan mencapai Rp1,2 triliun. Angka ini tentu sangat besar dan memerlukan perhatian serius,” ujar Dude.

Imbal Hasil Tak di Bayar Sejak Oktober

Keluhan para lender bermula dari terhentinya pembayaran imbal hasil investasi sejak 6 Oktober 2025. Kondisi tersebut memicu keresahan dan mendorong para investor membentuk paguyuban guna memperjuangkan kejelasan nasib dana yang telah mereka tanamkan.

Di tengah meningkatnya tekanan publik, manajemen DSI menyatakan komitmen untuk menyelesaikan kewajiban kepada para lender. Komitmen tersebut tertuang dalam kesepakatan yang di tandatangani pada 18 November 2025, di mana DSI menyatakan akan menyelesaikan pembayaran dana bermasalah dalam jangka waktu satu tahun.

Profil PT Dana Syariah Indonesia

Berdasarkan informasi yang tercantum di laman resmi perusahaan, danasyariah.id, PT Dana Syariah Indonesia merupakan perusahaan financial technology (fintech) peer-to-peer (P2P) financing berbasis syariah yang beroperasi sejak 2018. DSI tercatat telah mengantongi izin dan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Perusahaan ini fokus pada pembiayaan syariah di sektor konstruksi, kepemilikan rumah, serta penyediaan material bangunan dengan nilai pembiayaan hingga Rp2 miliar.

Jajaran Pendiri dan Manajemen

Dalam struktur manajemennya, DSI di pimpin oleh Taufiq Aljufri sebagai Founder sekaligus President Director. Ia memiliki pengalaman lebih dari dua dekade di bidang manajerial sebagai CEO dan direktur di berbagai perusahaan, serta aktif sebagai pengajar di sekolah bisnis di Jakarta. Selain itu, Taufiq juga telah lama berkecimpung sebagai pengembang properti syariah.

Selanjutnya, Nama Arie Rizal Lesmana tercatat sebagai Founder dan Commissioner DSI. Dengan latar belakang sebagai perancang strategi teknologi informasi di sejumlah lembaga keuangan milik negara.

Sementara Fithri Hadi berperan sebagai Founder and Advisors, yang memiliki pengalaman sebagai eksekutif tingkat C-Level di berbagai institusi keuangan dan pasar modal, termasuk Bursa Efek Indonesia.

Posisi Director DSI diisi oleh Janoearto Alamsyah, yang sebelumnya berkiprah di sektor bisnis kelembagaan pada lembaga keuangan internasional seperti Manulife Investment Management dan Bloomberg L.P. Adapun Mery Yuniarni menjabat sebagai Founder and Advisors dengan pengalaman panjang di sektor perbankan dan properti.

Menunggu Kepastian Penyelesaian Dana Lender

Hingga kini, proses penyelesaian dana para lender DSI masih terus menjadi perhatian publik dan investor. Para lender berharap manajemen DSI dapat merealisasikan komitmen yang telah di sepakati, sehingga kepercayaan terhadap industri fintech syariah di Indonesia tetap terjaga.