Tangerang, insightntb.com – Hari kedua pelaksanaan Lomba Peneliti Belia (LPB) Nasional 2025 di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di warnai dengan berlangsungnya program edukatif Sahya Vidya Nusantara (SVN). Program ini merupakan inisiatif pembelajaran khusus bagi peserta yang tidak melanjutkan ke babak final LPB Nasional 2025, atau yang di sebut Sahabat Nusantara. Pada saat yang sama, para finalis melanjutkan tahap presentasi penelitian secara tertutup bersama dewan juri di Gedung D lantai 17 UMN.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Program SVN di buka dengan sesi pembekalan “Ruang Rasa Nusantara” yang berlangsung secara paralel di dua lokasi. Para peserta mengikuti sesi utama di Function Hall UMN, sedangkan para guru pendamping mengikuti sesi terpisah yang di sesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran masing-masing.  Pelaksanaan paralel ini memungkinkan peserta dan guru memperoleh materi yang relevan sesuai peran mereka dalam kegiatan LPB Nasional 2025.

Pada sisi pendampingan guru, sesi CEO Talks mengangkat tema “Mendorong Hilirisasi Sampah untuk Mewujudkan Indonesia Bebas Sampah: Tantangan, Peluang, dan Usulan Solusi Pengelolaan Sampah”. Sesi ini di bawakan oleh Mohamad Bijaksana Junerosano, Founder Greeneration Indonesia, Waste4Change, dan Ecosystem. Dalam kesempatan tersebut ia memaparkan langkah strategis dan peluang dalam upaya mewujudkan pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia.

Pembekalan Untuk Peserta LPB Nasional

Sementara itu, para peserta SVN di Function Hall mengikuti sesi pembekalan bersama Repair Project yang di sampaikan oleh Laurencia Cindy Saputra, Commercial Lead Repair Project. Dalam sesi ini, peserta di perkenalkan pada konsep circular economy, pentingnya pengurangan sampah plastik, serta bagaimana limbah kemasan dapat di olah kembali menjadi material bernilai guna melalui praktik daur ulang dan penerapan gaya hidup berkelanjutan.

Pembekalan berikutnya diisi oleh Google Indonesia melalui sesi yang di bawakan oleh Olivia Husli Basrin, Indonesia & Malaysia Country Lead, Google for Education. Dalam paparannya yang berjudul “Leading in the AI Era”, beliau menekankan konsep “learning is limitless”. Menggambarkan bagaimana kehadiran kecerdasan buatan AI (Artificial Intelligence) membuka spektrum baru dalam dunia pendidikan dan memperluas peluang pembelajaran bagi generasi muda.

“Dengan hadirnya AI (Artificial Intelligence) kita sebut “learning is limitless” jadi kita sudah ada di tahap dalam masa periode pengembangan dimana cara belajar atau proses belajar tidak lagi terbatas, banyak sekali fitur-fitur yang bisa di manfaatkan untuk tujuan pembelajaran, google itu bukan lagi mendemokratisasi informasi tetapi juga mendemokratisasi cara belajar.

Cara Google mengembangkan AI dengan menekankan tiga prinsip utama yaitu; mendorong terciptanya inovasi, memastikan cara kita dalam mendeploy dan mengembangkan, dan terakhir memastikan berkolaborasi dengan pihak-pihak yang bertanggung jawab dengan AI (Artificial Intelligence) ini.” ucap Olivia Husli Basrin.

Peserta Mengikuti Kuis dan Membuat Prototipe

Memasuki tahap kedua SVN, peserta di bagi ke dalam kelompok tingkat SMP dan SMA untuk mengikuti kuis pengetahuan umum. Kegiatan kemudian berlanjut ke tahap ketiga, yaitu pembuatan prototipe, di mana setiap kelompok menerima starter kit berupa kardus dan peralatan sederhana yang di gunakan untuk merancang karya kreatif di area Selasar Gedung D UMN.

Berbagai prototipe hasil kreasi peserta di tampilkan dan di nilai langsung oleh dewan juri. Untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kepedulian terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Melalui program Sahya Vidya Nusantara. LPB Nasional 2025 tidak hanya berfokus pada kompetisi, tetapi juga menghadirkan ruang belajar kolaboratif yang mendorong lahirnya generasi muda yang peduli, adaptif, dan visioner.

Penyelenggaraan kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik tentu karena dukungan dan kerja sama berbagai pihak. Khususnya Bank Danamon Indonesia yang telah memberikan kontribusi nyata bagi suksesnya acara LPB Nasional 2025.