Lombok Timur, insightntb.com – Kesadaran kritis pemuda Desa Suralaga tidak lagi sekadar wacana, ia mulai menjelma menjadi gerakan. Hal ini tercermin dalam Pertemuan Pemuda Independen Suralaga yang digelar Sabtu malam (28/3) di Cafe Rumah BUMN, Selong.

Advertisement

Forum tersebut bukan hanya ruang diskusi, melainkan titik konsolidasi gagasan dan sikap politik pemuda dalam merespons realitas desa yang kerap berjalan tanpa kontrol publik yang kuat.

Diskusi berlangsung tajam dan terbuka. Para pemuda tidak lagi berbicara normatif, melainkan mulai menguliti persoalan desa secara kritis mulai dari transparansi anggaran, akuntabilitas program, hingga keberpihakan kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya menyentuh kepentingan masyarakat luas.

Turmawazi, salah satu inisiator kegiatan, menegaskan bahwa pemuda harus keluar dari zona pasif dan seremonial.

“Pemuda tidak boleh hanya menjadi pelengkap acara. Kita harus hadir sebagai kekuatan kontrol mitra kritis yang berani mengawal, mengoreksi, bahkan menekan kebijakan yang tidak berpihak,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi penegas arah baru: pemuda Suralaga ingin mengambil posisi strategis, bukan sekadar partisipan, tetapi sebagai aktor yang turut menentukan arah pembangunan desa.

Tak berhenti pada isu tata kelola, forum ini juga menyoroti lemahnya respons kolektif terhadap persoalan sosial dan lingkungan. Pemuda menilai bahwa krisis kepedulian menjadi ancaman serius jika tidak segera diatasi. Dalam konteks ini, mereka menegaskan pentingnya keterlibatan langsung bukan hanya kritik, tetapi juga aksi nyata di tengah masyarakat.

Lebih jauh, forum ini menjadi ruang konsolidasi lintas gagasan. Para peserta sepakat bahwa gerakan pemuda harus dibangun secara kolektif, terorganisir, dan berkelanjutan. Diskusi tidak boleh berhenti sebagai wacana, tetapi harus ditransformasikan menjadi agenda rutin dengan tema-tema strategis yang mampu memperkuat kapasitas analisis dan daya kritis pemuda.

Pertemuan ini menandai satu hal penting: pemuda Suralaga mulai sadar bahwa perubahan tidak datang dari diam, tetapi dari keberanian untuk bersuara, bersikap, dan bertindak.