Selong, insightntb.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Hamzanwadi menggelar aksi simbolik melalui kegiatan mimbar bebas di Simpang Empat Kota Selong, Kabupaten Lombok Timur, Selasa (2/3/2026). Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian acara pengukuhan Direktorat Jenderal Kementerian BEM Universitas Hamzanwadi.

Advertisement

Aksi yang berlangsung di ruang publik tersebut dimanfaatkan mahasiswa untuk menyampaikan berbagai aspirasi masyarakat serta kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.

Mimbar Bebas Jadi Panggung Aspirasi Mahasiswa

Presiden Mahasiswa Universitas Hamzanwadi, Ahmad Hasby Rosyid, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan persoalan masyarakat.

Menurutnya, peran tersebut sejalan dengan amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat.

“Mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam mengawal suara rakyat. Mimbar bebas ini kami jadikan ruang untuk menyampaikan berbagai keresahan yang muncul di tengah masyarakat,” ujarnya saat menyampaikan orasi dalam aksi tersebut.

Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut bukan hanya simbolik, tetapi juga bentuk komitmen mahasiswa untuk terus mengawasi kebijakan publik.

Sorotan Terhadap Komersialisasi Pendidikan

Dalam aksi tersebut, Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Hamzanwadi, Lalu Muhammad Rezi Helfiandi, menyoroti kondisi dunia pendidikan yang dinilai mulai mengalami komersialisasi.

Ia menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya perlu dievaluasi secara serius.

Rezi menilai pendidikan seharusnya menjadi hak dasar warga negara sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 Pasal 31 Ayat 3, yang mengamanatkan negara untuk menjamin akses pendidikan bagi seluruh masyarakat.

Namun ia menilai sejumlah program pemerintah berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

“Pendidikan adalah amanat konstitusi. Tetapi hari ini kami melihat adanya indikasi komersialisasi melalui program tertentu, termasuk program makan bergizi gratis. Kami khawatir ada kepentingan politik menuju Pemilu 2029,” ujarnya.

Enam Tuntutan Disampaikan Mahasiswa

Menutup aksi mimbar bebas tersebut, BEM Universitas Hamzanwadi menyampaikan sejumlah tuntutan sebagai bentuk sikap organisasi mahasiswa terhadap berbagai persoalan nasional dan daerah.

Beberapa tuntutan yang disampaikan antara lain:

  1. Membebaskan seluruh tahanan politik di Indonesia tanpa syarat.

  2. Mengevaluasi program Makan Bergizi Gratis yang dinilai belum memiliki orientasi jelas bagi kepentingan bangsa.

  3. Menghentikan dugaan perampasan lahan di wilayah Kuta E Bunut.

  4. Menghentikan aktivitas pertambangan di Desa Korleko.

  5. Mengakhiri praktik kriminalisasi dan tindakan represif terhadap massa aksi yang menyampaikan kritik.

  6. Mewujudkan sistem pendidikan yang ilmiah, demokratis, dan berpihak kepada rakyat.

Mahasiswa Tegaskan Komitmen Kawal Kebijakan Publik

BEM Universitas Hamzanwadi menegaskan bahwa aksi mimbar bebas tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa dalam menjaga ruang demokrasi serta memastikan kebijakan pemerintah tetap berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

Mereka juga menegaskan akan terus mengawal berbagai isu sosial, pendidikan, dan lingkungan yang berkembang di Nusa Tenggara Barat maupun secara nasional.