Sumbawa, insightntb.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa masih menemukan praktik pemasungan terhadap warga dengan gangguan jiwa berat (ODGJ). Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak sembilan orang mengalami pasung, menjadikan Sumbawa sebagai daerah dengan angka pasung tertinggi di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kepala Dinas Kesehatan Sumbawa melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, dr. Abadi Abdullah, menyebutkan bahwa sebagian besar kasus pasung di picu oleh depresi yang tidak tertangani dalam waktu lama.
“Sembilan kasus pasung yang kami temukan sepanjang 2025 mayoritas di picu oleh depresi berkepanjangan,” ungkap dr. Abadi.
Di Anggap Membahayakan, Keluarga Pilih Pasung
Menurutnya, praktik pemasungan di lakukan karena penderita kerap bertindak agresif dan membahayakan orang lain. Minimnya pendampingan keluarga turut memperparah situasi.
“Sebagian keluarga merasa tidak sanggup mengawasi karena kesibukan, sehingga pemasungan di jadikan jalan terakhir agar tidak membahayakan lingkungan,” jelasnya.
Data ODGJ dan ODMK di Sumbawa
Berdasarkan hasil pendataan Dinkes Sumbawa sepanjang 2025, tercatat:
-
1.137 orang mengalami gangguan jiwa berat (ODGJB)
-
1.536 orang masuk kategori ODGJ
-
160 orang teridentifikasi sebagai Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), seperti stres dan depresi
Data tersebut di peroleh dari kegiatan skrining kesehatan jiwa yang di lakukan di sekolah serta masyarakat umum.
Cakupan Skrining Jiwa Masih Terbatas
Dinkes Sumbawa mencatat telah melakukan skrining terhadap:
-
74.304 anak sekolah
-
78.551 orang dewasa
-
14.307 lansia
-
586 ibu hamil
Namun demikian, dr. Abadi mengakui cakupan tersebut masih jauh dari ideal jika di bandingkan dengan jumlah penduduk Sumbawa secara keseluruhan.
“Seharusnya skrining menjangkau seluruh masyarakat agar gangguan jiwa bisa terdeteksi sejak dini,” katanya.
Gangguan Jiwa Berat Berawal dari Masalah Psikologis Ringan
Ia menegaskan, gangguan jiwa berat umumnya tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan bermula dari stres dan depresi yang tidak di tangani dengan baik.
“Faktornya beragam, mulai dari tekanan ekonomi, konflik keluarga, hingga persoalan relasi pribadi,” jelasnya.
Masalah lain yang di hadapi adalah banyaknya pasien yang tidak rutin minum obat akibat kurangnya pendampingan keluarga, sehingga berujung pada kekambuhan.
“Ketika putus obat, kondisi pasien bisa semakin parah dan akhirnya di pasung,” ungkap dr. Abadi.
Untuk memperkuat layanan, Dinkes Sumbawa telah menyiapkan 26 puskesmas dengan tenaga medis yang telah mengikuti pelatihan dan sertifikasi pelayanan kesehatan jiwa dari pemerintah provinsi.
“Kami terus memperkuat kapasitas layanan agar penanganan ODGJ lebih optimal,” katanya.
Perempuan Paling Rentan Alami Gangguan Jiwa
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kesehatan Jiwa dan Kelompok Rentan Dinkes Sumbawa, Ulva Nalaraya, menyebut perempuan menjadi kelompok paling rentan mengalami gangguan kesehatan jiwa.
“Kasus kekerasan terhadap perempuan, konflik rumah tangga, hingga persoalan mantan TKW yang di telantarkan menjadi faktor dominan,” ujarnya.
Ulva menegaskan bahwa persoalan kesehatan jiwa tidak bisa di tangani oleh sektor kesehatan semata.
“Ini membutuhkan peran bersama, mulai dari keluarga, pemerintah desa, lintas OPD, hingga masyarakat,” pungkasnya.


