Mataram, insightntb.com – Pelaksanaan Pemilu Raya Mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram ternodai aksi kekerasan. Ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) bersama seorang anggotanya di laporkan menjadi korban pengeroyokan di kawasan Kampus 1 UIN Mataram, Jumat (16/1/2026).
Insiden tersebut di duga melibatkan sekelompok mahasiswa yang merupakan pendukung salah satu pasangan calon dalam kontestasi pemilu kampus.
Berdasarkan informasi yang di himpun, situasi mulai memanas saat tahapan pemilihan memasuki fase penentuan hasil. Sejumlah oknum yang diduga tidak menerima hasil sementara pemilu melakukan intimidasi dan provokasi di lokasi pemungutan suara.
Ketegangan tersebut berujung pada tindakan anarkis yang terjadi secara tiba-tiba di tengah kerumunan mahasiswa.
Ketua KPUM dan Anggota Alami Luka Serius
Dalam peristiwa itu, Ketua KPUM dan satu anggota lainnya menjadi sasaran pengeroyokan. Korban mengalami luka cukup parah, terutama di bagian kepala, akibat pukulan dan hantaman benda tumpul.
Salah satu korban sempat tidak sadarkan diri dan langsung di evakuasi oleh rekan-rekan mahasiswa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Saat ini, korban menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Mataram. Tim medis masih melakukan observasi mendalam untuk memastikan tidak terjadi cedera serius maupun trauma dalam.
“Kondisinya cukup mengkhawatirkan, terdapat luka di bagian kepala yang membutuhkan penanganan serius. Kami masih melakukan pemantauan lanjutan,” ujar salah satu saksi mata yang turut membantu evakuasi korban.
Aksi kekerasan tersebut menuai kecaman keras dari keluarga korban dan sejumlah organisasi mahasiswa. Mereka mendesak aparat penegak hukum agar segera mengusut tuntas kasus ini dan menangkap para pelaku, termasuk pihak-pihak yang di duga menjadi aktor intelektual di balik insiden tersebut.
“Ini bukan lagi sekadar konflik organisasi mahasiswa, melainkan sudah masuk ranah pidana. Aparat harus bertindak tegas,” kata salah seorang pengurus organisasi kemahasiswaan.
Birokrasi Kampus Dinilai Lalai
Peristiwa ini juga menuai sorotan terhadap sikap birokrasi kampus. Pasalnya, sejumlah Wakil Dekan III fakultas yang di tugaskan oleh Wakil Rektor III di sebut berada di lokasi untuk memantau jalannya pemilu.
Namun, ketika pengeroyokan terjadi di depan mata, para perwakilan birokrasi kampus di nilai tidak mengambil tindakan tegas dan terkesan membiarkan aksi kekerasan berlangsung.
Hingga berita ini di turunkan, pihak birokrasi UIN Mataram belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden kekerasan yang mencoreng citra demokrasi dan keamanan di lingkungan kampus tersebut.
Kasus ini kini menjadi perhatian luas mahasiswa dan publik. Sekaligus menjadi ujian serius bagi komitmen kampus dalam menjamin proses demokrasi yang aman, adil, dan beradab.


