Insightntb.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara terkait nilai tukar rupiah yang melemah hingga hampir menyentuh Rp17.000 per dolar AS. Padahal, aliran dana yang masuk melalui pasar modal terpantau deras.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Anda tanyanya ke bank sentral, apa yang terjadi gitu loh. Ketika kapital masuk ke sini besar, kenapa rupiahnya melemah? Coba tanya mereka deh, karena saya enggak bisa intervensi untuk menjelaskan, nah itu kan otoritas Bank Sentral,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Lebih lanjut, Purbaya juga tidak berkomentar mengenai pelemahan rupiah di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat. Adapun pada hari ini nilai tukar rupiah berada di level Rp16.955 per dolar AS, sementara pada pembukaan perdagangan IHSG berada di level 9.094,42.

“Anda tanya ke Bank Sentral aja apa yang terjadi. Rupiah nanti pelan-pelan akan menguat. Enggak ada alasan rupiah melemah ketika modal masuk ke sini. Ya kan? Menurut Anda gimana? Makanya ada yang aneh kan? Anda tanya ke Bank Sentral,” jelas dia.

Terkait hal tersebut, analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah kali ini di picu oleh sikap wait and see para investor menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang di jadwalkan esok hari.

Selain faktor kebijakan moneter, pasar juga tengah mencermati dinamika politik domestik terkait jabatan di bank sentral. “Rupiah terbebani oleh berita pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI. Hal ini memicu kekhawatiran pasar terkait aspek independensi Bank Indonesia ke depannya,” ungkap Lukman.

Secara teknikal, pergerakan rupiah diprediksi masih akan fluktuatif hingga pengumuman suku bunga acuan BI, sembari memantau respons pelaku pasar terhadap isu transisi kepemimpinan di otoritas moneter tersebut.