Isightntb.com — Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai kondisi ketenagakerjaan nasional tahun 2025. Salah satu temuan yang menjadi sorotan adalah meningkatnya jumlah pengangguran dari kalangan lulusan pascasarjana (S2), yang kini turut menyumbang angka signifikan dalam statistik pengangguran Indonesia.
Berdasarkan laporan resmi BPS, total pengangguran di Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 7,46 juta orang. Dari jumlah tersebut, lulusan S2 tercatat menyumbang sekitar 120 ribu hingga 150 ribu orang yang belum terserap dunia kerja.
Kondisi ini menegaskan bahwa jenjang pendidikan tinggi tidak lagi menjadi jaminan utama untuk memperoleh pekerjaan dalam waktu singkat.
BPS juga mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan perguruan tinggi secara keseluruhan meningkat menjadi 5,39 persen, naik dibandingkan tahun sebelumnya. Tren ini menunjukkan adanya tantangan struktural di pasar kerja, khususnya bagi pencari kerja dengan kualifikasi akademik tinggi.
Alasan Lulusan S2 Sulit Terserap Dunia Kerja
BPS mengidentifikasi sejumlah faktor utama yang menyebabkan meningkatnya pengangguran di kalangan lulusan S2 sepanjang 2025.
1. Fenomena Overqualified
Banyak perusahaan menilai lulusan S2 terlalu tinggi kualifikasinya untuk posisi tertentu. Kondisi ini sering memunculkan kekhawatiran terkait ekspektasi gaji yang lebih besar, sehingga perusahaan lebih memilih merekrut lulusan S1 demi efisiensi biaya.
2. Terjadi Vertical Mismatch
Ketidaksesuaian antara spesialisasi pendidikan dengan kebutuhan riil dunia kerja menjadi faktor dominan. Banyak lulusan S2 bekerja pada bidang yang tidak selaras dengan keahlian akademiknya, bahkan kesulitan mendapatkan pekerjaan yang relevan.
3. Stagnasi di Sektor Akademik
Lonjakan jumlah lulusan S2 tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja di sektor akademik. Peluang menjadi dosen maupun peneliti semakin terbatas, sementara sebagian besar lulusan S2 masih berfokus pada jalur karier tersebut.
Investasi Pendidikan Tinggi Jadi Sorotan
Situasi ini memunculkan kekhawatiran terkait efektivitas investasi pendidikan tinggi. Tidak sedikit lulusan S2 yang akhirnya bekerja di bawah kualifikasi akademiknya sebagai pilihan realistis untuk bertahan di tengah persaingan pasar kerja.
BPS menegaskan pentingnya penyesuaian antara kurikulum pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri. Tanpa kolaborasi yang kuat antara kampus dan dunia usaha, ijazah S2 berisiko hanya menjadi formalitas tanpa nilai tambah kompetensi.
Ke depan, lulusan S2 dituntut untuk tidak hanya mengandalkan gelar akademik, tetapi juga mampu menunjukkan keterampilan praktis, adaptabilitas, dan daya saing yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja modern.


