Insightntb.com – Di sebuah lapangan terbuka di Pulau Lombok, dua lelaki berdiri saling berhadapan. Tubuh mereka tegap, mata fokus, tangan menggenggam rotan, dan sebuah perisai kulit melindungi dada. Di sekelilingnya, masyarakat berkumpul, sorak-sorai terdengar, namun suasana tetap sarat penghormatan. Inilah Presean, tradisi adu ketangkasan khas Suku Sasak yang telah hidup selama ratusan tahun.
Presean sering dipahami secara keliru sebagai pertarungan semata. Padahal, bagi masyarakat Sasak, tradisi ini adalah ekspresi nilai-nilai luhur tentang keberanian, kejujuran, dan sportivitas. Setiap gerakan, aturan, hingga akhir pertarungan mengandung pesan budaya yang mendalam.
Asal-Usul dan Makna Presean
Dalam bahasa Sasak, Presean berasal dari kata perese yang berarti rotan. Rotan inilah yang digunakan oleh para petarung, atau yang disebut pepadu, sebagai simbol kekuatan dan keteguhan hati. Sementara itu, perisai yang mereka gunakan dikenal sebagai ende, terbuat dari kulit sapi atau kerbau yang telah dikeringkan dan dibentuk secara tradisional.
Tradisi Presean dipercaya telah ada sejak masa lampau, ketika masyarakat Sasak masih sangat bergantung pada alam. Pada masa itu, Presean tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ritual adat yang sarat makna spiritual.
Salah satu fungsi awal Presean adalah sebagai ritual memohon hujan pada musim kemarau panjang. Masyarakat Sasak meyakini bahwa adu ketangkasan yang dilakukan dengan penuh semangat dapat “membangunkan” alam agar kembali memberikan hujan dan kesuburan.
Ritual ini menunjukkan eratnya hubungan masyarakat Sasak dengan alam. Presean menjadi simbol komunikasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam tradisi lokal.
Seiring berjalannya waktu, fungsi Presean mengalami perkembangan. Tradisi ini kemudian menjadi bagian dari berbagai upacara adat, perayaan panen, hingga penyambutan tamu kehormatan. Dalam konteks modern, Presean juga kerap ditampilkan dalam festival budaya.
Meski tampil di ruang publik dan pariwisata, masyarakat adat tetap menjaga nilai sakral dan filosofi Presean agar tidak kehilangan makna aslinya.
Aturan Adat dan Peran Pakembar
Presean bukan pertarungan bebas tanpa aturan. Dalam setiap pelaksanaan, terdapat seorang wasit adat yang di sebut pakembar. Pakembar memiliki kewenangan penuh untuk mengatur jalannya pertandingan dan menjaga sportivitas.
Pakembar memastikan bahwa setiap pepadu mematuhi aturan adat, termasuk batasan area serangan dan durasi pertarungan. Jika terjadi pelanggaran, pertandingan dapat di hentikan sewaktu-waktu.
Dalam arena Presean, pepadu tidak di perbolehkan menyerang bagian tubuh tertentu seperti kaki atau bagian bawah. Pukulan hanya di arahkan ke tubuh bagian atas, dan harus di lakukan secara terbuka tanpa niat mencederai secara berlebihan.
Etika ini menegaskan bahwa Presean bukan ajang pelampiasan emosi, melainkan sarana menguji ketangguhan fisik dan mental dengan menjunjung nilai adat.
Salah satu momen paling bermakna dalam Presean adalah saat pertandingan berakhir. Setelah rotan di turunkan, kedua pepadu di wajibkan saling berpelukan di hadapan penonton.
Pelukan tersebut menjadi simbol perdamaian dan persaudaraan. Tidak ada dendam yang di bawa keluar arena, menegaskan bahwa lawan di medan Presean adalah saudara dalam kehidupan sosial.
Presean mengajarkan banyak nilai penting, terutama bagi generasi muda Suku Sasak. Tradisi ini menanamkan keberanian, disiplin, tanggung jawab, serta kemampuan mengendalikan emosi.
Melalui Presean, generasi muda belajar bahwa kehormatan tidak hanya di ukur dari kemenangan, tetapi juga dari sikap menerima kekalahan dengan lapang dada.
Tantangan Pelestarian di Tengah Modernisasi
Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, Presean menghadapi tantangan besar. Minat generasi muda terhadap tradisi lokal mulai berkurang, sementara hiburan modern semakin mendominasi.
Namun demikian, tokoh adat, komunitas budaya, dan pegiat seni terus berupaya menjaga eksistensi Presean melalui pendidikan budaya dan pelibatan generasi muda.
Dalam konteks pariwisata, Presean menjadi daya tarik budaya yang unik. Wisatawan domestik dan mancanegara kerap tertarik menyaksikan langsung tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya Lombok.
Meski demikian, masyarakat adat menegaskan bahwa Presean tidak boleh di reduksi menjadi sekadar tontonan. Pemahaman terhadap nilai dan filosofi tradisi menjadi hal yang utama.
Presean adalah cerminan perjalanan panjang masyarakat Sasak dalam menjaga kehormatan, solidaritas, dan harmoni sosial. Tradisi ini hidup karena nilai-nilainya masih relevan dan di jalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Selama nilai-nilai tersebut terus di wariskan, Presean akan tetap menjadi identitas budaya yang kokoh di Lombok bukan hanya sebagai adu rotan, tetapi sebagai pelajaran tentang kehidupan dan kemanusiaan.

