Lombok Timur, insightntb.com – Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal dan merusak tanah menjadi perhatian serius mahasiswa KKN Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Universitas Mataram (Unram). Sebagai solusi nyata, mereka menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan pupuk organik di Desa Mengkuru, Kecamatan Sakra Barat, pada Kamis (15/01/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Mahasiswa KKN PMD Universitas Mataram (Unram) berkolaborasi dengan Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) menggelar kegiatan pemanfaatan limbah ternak sebagai solusi pertanian berkelanjutan di Desa Mengkuru, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur. Kegiatan ini diikuti sekitar 30 anggota kelompok tani dan menghadirkan narasumber ahli dari BPTP, Safprada Rizma Huri Aurunnisa, SP.

Dalam materi bertajuk “Pengenalan Hama Penyakit pada Tanaman Pangan dan Hortikultura serta Cara Penanganan dengan Pemanfaatan Limbah Organik sebagai Agen Hayati”, Safprada menekankan pentingnya petani mengenali musuh alami tanaman dan beralih ke agen hayati guna menjaga ekosistem tanah.

Sejalan dengan kegiatan tersebut, program kerja KKN PMD Unram juga bersinergi dengan lembaga sosial pemerhati limbah organik yang ada di Desa Mengkuru, yaitu Rumah Kreasi MerAnti. Lembaga ini di kelola oleh Bapak Ali Imran, yang di kenal sebagai petani sekaligus inovator dalam pemanfaatan limbah organik. Ia merupakan peraih Juara Terbaik III Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Kabupaten tahun 2021 dan Juara Terbaik II TTG tingkat Provinsi tahun 2025.

Sejak tahun 2023, ia telah di percaya oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi serta Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur sebagai narasumber pengolahan limbah organik di berbagai daerah. Pada tahun 2025, ia juga aktif melaksanakan kegiatan sosialisasi pemanfaatan limbah organik di seluruh desa di Kecamatan Sakra Barat.

Petani Langsung Mempraktikkan Pembuatan Pupuk Organik

Tak hanya teori, para petani juga diajak langsung mempraktikkan pembuatan pupuk organik hasil racikan limbah ternak ayam, kambing, dan arang sekam. Teknik pembakaran arang sekam yang dicontohkan oleh mahasiswa menjadi daya tarik utama.

Suasana Praktik Lapangan Pemanfaatan Limbah Ternak oleh KKN Unram dan Petani
Suasana Praktik Lapangan Pemanfaatan Limbah Ternak oleh KKN Unram dan Petani

Ketua Kelompok KKN PMD Unram, Sultan. Ia mengungkapkan bahwa inisiatif ini muncul karena melihat melimpahnya kotoran ternak di Desa Mengkuru yang selama ini terbuang percuma. “Alasan kami memilih program ini karena masyarakat di sini belum bisa memanfaatkan limbah kotoran ayam dan kambing untuk pertanian, padahal jumlah peternak di sini sangat banyak,” ujar Sultan pada Kamis (15/1/26).

Sultan mengakui adanya tantangan komunikasi karena materi teknis dari pemateri terkadang sulit di pahami secara langsung oleh petani. Sebagai solusi, mahasiswa KKN akan melakukan sosialisasi tambahan. “Kami berencana masuk ke kelompok kelas PKH di setiap dusun mulai tanggal 26 Januari agar edukasi ini lebih efektif dan bisa di terima dengan bahasa yang lebih sederhana,” tambahnya, Kamis (15/1/26).

Edukasi berbasis praktik lapangan dinilai efektif membantu petani memahami manfaat pupuk organik dari limbah ternak.

Pak Ali Imran, yang merupakan Bendahara Desa sekaligus petani, mengakui bahwa selama ini masyarakat terjebak pada pola pikir praktis. “Petani kita maunya yang instan walaupun mahal. Tapi dengan adanya ini, insyaAllah ke depannya akan memanfaatkan limbah. Penggunaan pupuk kotoran ini membuat tanah tidak keras dan padat, serta menjaga unsur hara,” jelasnya pada Kamis (15/1/26)

Selaku bagian dari pemerintah desa, Pak Ali menegaskan komitmen desa dalam mendukung pemanfaatan limbah ini. “Dukungan pemerintah desa tetap ada. Kita berikan keringanan, misal jika mereka merasa proses pembakaran ribet, bisa langsung tabur limbah asal di siram EM4 dulu. Jika nanti masyarakat butuh sosialisasi lanjutan, pemerintah desa siap mendatangkan kembali ahli terkait,” pungkasnya, Kamis (15/1/26).

Senada dengan Pak Ali, Pak Juma’ati, S.Pd., yang merupakan anggota BPD sekaligus petani, merasa sangat bersyukur atas ilmu baru ini. Meski sempat merasa penjelasan teori terlalu berat, ia merasa terbantu dengan adanya praktik langsung yang di peragakan mahasiswa. “Bagus dan cepat kami mengerti karena mudah kita praktikkan. Ini ilmu dan bekal berharga. Kalau kita gunakan kimia terus, tanah makin rusak. Ini jadi pengalaman saya, besok akan saya coba langsung di sawah saya,” ujar Pak Juma’ati pada Kamis (15/1/26).

Sebagai wakil rakyat di desa, Pak Juma’ati berkomitmen untuk terus menyambung informasi ini ke warga lainnya. “InsyaAllah ilmu ini akan kami sampaikan terus kepada masyarakat lain hari demi hari. Itulah fungsi kami di BPD. Harapan kami desa lebih maju dengan kesadaran organik ini. Sering-seringlah berdiskusi agar desa kita lebih maju,” tutupnya, Kamis (15/1/26).

Kegiatan ini di akhiri dengan demonstrasi teknik pembakaran sekam oleh mahasiswa KKN.  Yang di harapkan menjadi titik awal kemandirian pupuk bagi petani di Desa Mengkuru.