Mataram, insightntb.com — Dari luar, ruang wisma Taman Budaya NTB terlihat biasa saja. Namun di dalamnya, selama tiga hari, ruang itu berubah menjadi laboratorium penuh pertanyaan. Lokakarya dramaturgi Spektrum Konvensi dan Ruang menghadirkan 19 peserta dari komunitas teater se-Lombok.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Lokakarya ini di fasilitasi oleh Joned Suryatmoko, sutradara dan peneliti yang lama bekerja mengembangkan metode penciptaan teater.

Alih-alih mempertentangkan, lokakarya yang di ampu Joned ini menyandingkan konvensi dengan non-konvensi; dramatik dengan postdramatik.

Joned menyebut penyandingan ini penting agar pelaku teater tak hanya mengulang bentuk, tetapi menimbang ulang dasar berpikir artistik.

“Ini berguna bukan hanya untuk menilai hubungan kita dengan konvensi, tapi juga membaca perkembangan dramaturgi postdramatic,” ujarnya.

Hari pertama (10/12) kemarin, fokusnya pada akting. Peserta diminta menelusuri bagaimana akting dirumuskan, ditafsirkan kembali, hingga ditolak.

Semua itu diterjemahkan ke dalam kerja kelompok seperti latihan blocking, dialog pendek, hingga presentasi. Lintasan itu membuat peserta melihat akting bukan sebagai teknik, tetapi sebagai cara memproduksi makna.

Ruang, Penonton, dan Mata yang Berlari

Hari kedua bergeser ke isu ruang. Joned meminta peserta meninjau kembali asumsi tentang proscenium, arena, atau blackbox sebagai kerangka utama. Ruang publik dan site-specific theater masuk sebagai pembanding, membuka banyak kemungkinan baru.

Pertanyaan dari Khairil memantik diskusi, apa sebenarnya yang perlu menjadi fokus penonton teater?

Joned menjelaskan bahwa pertunjukan teater tidak bekerja seperti film. “Konsep mata berlari-lari itu bisa menjadi satu peristiwa,” katanya, Kamis (11/12/2025).

Di teater, penonton menyerap banyak hal sekaligus, suara batuk, warna pakaian, bebunyian di lantai. Semua itu bagian dari dramaturgi pengalaman.

Sesi sore memperdalam eksplorasi ruang dengan memasukkan kembali materi hari pertama. Peserta di minta mengambil keputusan artistik yang paling mereka yakini sebelum presentasi singkat kelompok.

Lokakarya ini merupakan bagian dari Festival Teater Indonesia (FTI) 2025, dan bagi peserta, tiga hari itu menjadi pintu masuk membaca ulang bahasa panggung.

Joned yang selama bertahun-tahun terlibat dalam penyutradaraan, penulisan lakon, dan pengembangan festival menegaskan bahwa nalar kritis adalah bahan dasar penciptaan teater. Sebab dari sanalah percakapan baru, bentuk baru, dan imajinasi baru dapat tumbuh.

FTI 2025 memberi ruang bagi proses itu, atau ruang untuk mempertanyakan, mencoba, dan merumuskan ulang kemungkinan pertunjukan teater hari ini.