insightntb.com – Menteri Koordinator Bidang Pangan sekaligus Ketua Umum (Ketum) PAN, Zulkifli Hasan atau Zulhas, ramai disorot di media sosial (medsos) usai ikut memanggul beras karung saat memberikan bantuan logistik di lokasi bencana Sumatera.
Adapun video aksi Zulhas itu diunggah di akun Instagram milik Zulhas dan PAN, dilihat Jumat (5/12/2025). Zulhas berkunjung ke Sumatera Barat pada 30 November lalu.
Menurut pakar politik sekaligus direktur eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign, Nasarudin Sili Luli mengatakan viralnya meme Zulhas bukan akhir, tapi awal. Meme Zulhas bisa jadi branding goldmine kalau diolah dengan cerdas.
Dalam dunia Gen Z,,reputasi nggak dibangun lewat kesempurnaan, tapi lewat otentisitas.terlepas dari apapun sentimen negatif publik saat ini , skenario alternatif Zulhas justru bisa ikut main di ruang itu? Misalnya, dia bikin video singkat di TikTok, reaksi santai terhadap meme-memenya sendiri sambil bilang, “Wah, kreatif banget kalian!” Bayangin efeknya, langsung viral dua kali lipat tapi kali ini dengan sentimen positif.Kata pakar politik ini. ”
Ia. Mengatakan Zulhas bisa mengambil pendapat Sarah Banet-Weiser dalam Authentic: The Politics of Ambivalence in a Brand Culture bilang bahwa di era digital, otentisitas adalah mata uang paling mahal. Publik bisa mencium ketidaktulusan dari jauh. Gen Z, apalagi, detektornya tajam. Mereka cepat tahu mana yang genuine dan mana yang cuma pencitraan.
Jadi kalau Zulhas bisa menunjukkan self-awareness, bahwa dia bisa tertawa bersama publik dan tidak marah, itu bukan kelemahan. Itu adalah kekuatan.
Dalam konteks branding, ini bukan hal baru. Alice Marwick dalam Status Update: Celebrity, Publicity, and Branding in the Social Media Age menjelaskan bahwa tokoh publik yang sukses di media sosial adalah mereka yang menampilkan “performed intimacy.” Artinya, mereka kelihatan dekat dan manusiawi, tapi tetap punya wibawa.
Pakar politik ini,lalu memberi contoh nyata. Akun resmi Partai Gerindra pernah menunjukkan strategi brilian ini. Waktu ada tweet lucu yang nyamain Prabowo sama bayi di iklan “mybaby,” alih-alih marah, akun Gerindra justru ikut bercanda, “Kijang satu, monitor…” Netizen langsung meledak ketawa. Responsnya bukan cuma lucu, tapi juga menunjukkan bahwa mereka paham cara kerja internet.
Ahli strategi kampanye ini mengetik cepat: “That’s how you win the timeline.” Dengan ikut main, mereka bukan kehilangan wibawa, tapi justru mendapat simpati. Mereka terlihat fun, modern, dan nggak kaku.
Kalau strategi semacam itu diterapkan oleh Zulhas efeknya bisa luar biasa. Meme yang awalnya terlihat seperti ejekan bisa diubah jadi titik balik citra publik. Ia bisa membuka dialog santai dengan anak muda soal pertambangan,ilegal loving , investasi, atau ekonomi digital, tapi dikemas dengan gaya yang playful dan komunikatif.
Pakar politik ini menjelaskan bahwa media elektronik menghapus batas antara panggung depan dan belakang. Publik sekarang pengin lihat sisi “backstage” dari pejabat, yang manusiawi, jujur, dan bahkan kadang kikuk. Meme, kata Nasarudin , adalah undangan halus ke panggung belakang itu.
Kalau Zulhas bisa menanggapi dengan santai, dia bukan cuma dapat poin di mata netizen, tapi juga membuka era baru komunikasi publik di Indonesia. Ia bisa menunjukkan bahwa pemimpin modern itu bukan yang jauh dan formal, tapi yang bisa connect tanpa kehilangan substansi.
Bahwa yang sedang terjadi ini lebih besar dari sekadar meme. Ini tentang cara baru rakyat bicara kepada kekuasaan. Tentang bagaimana humor bisa jadi jembatan antara istana dan wargane“mungkin Zulhas nggak sedang di-olok, tapi sedang diundang.”
Diundang untuk hadir di ruang percakapan digital yang lebih cair, lebih manusiawi, dan lebih Indonesia karena, di zaman sekarang, branding bukan soal siapa yang paling berkuasa, tapi siapa yang paling bisa tertawa.


