Mataram, insightntb.com – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Nusa Tenggara Barat dalam beberapa hari terakhir memicu banjir besar di kawasan Lombok Selatan. Bencana hidrometeorologi tersebut melanda sejumlah desa di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), serta Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), pada Selasa hingga Rabu, 13–14 Januari 2026.
Banjir tidak hanya merendam ratusan rumah warga dan merusak infrastruktur jalan, tetapi juga menelan korban jiwa di Dusun Sauh, Desa Persiapan Blongas, Kecamatan Sekotong.
DPRD NTB: Banjir Tak Sekadar Faktor Cuaca
Anggota DPRD NTB yang juga Presidium Nasional Kaukus Parlemen Hijau Daerah (KPHD), Akhdiansyah, menilai banjir di Lombok Selatan tidak bisa semata-mata di salahkan pada cuaca ekstrem. Ia menduga kerusakan lingkungan, khususnya alih fungsi hutan, turut memperparah dampak banjir.
“Ini bukan rahasia lagi, hutan di kawasan tersebut sudah banyak beralih fungsi. Terjadi deforestasi karena penebangan pohon secara masif,” ujar Akhdiansyah, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, kondisi perbukitan di wilayah selatan Lombok, termasuk sekitar Kuta Mandalika dan Sekotong. Kini semakin gundul akibat pengerukan dan pembukaan lahan untuk pembangunan vila serta hotel.
Pengembangan Pariwisata Harus Perhatikan Lingkungan
Akhdiansyah menegaskan, pengembangan sektor pariwisata memang penting untuk pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, aspek kelestarian lingkungan tidak boleh diabaikan.
“Pembangunan boleh saja, tapi dampak lingkungan juga harus dihitung secara serius,” tegas politisi Fraksi PKB DPRD NTB itu.
Ia mendorong pemerintah daerah, baik Pemerintah Provinsi NTB maupun pemerintah kabupaten/kota, untuk memperketat pengelolaan lingkungan. Salah satunya dengan mewajibkan penanaman kembali pohon sebagai syarat penerbitan izin pembangunan.
“Setiap pohon yang di tebang harus ada penggantinya,” katanya.
Faktor Drainase dan Pendangkalan Sungai
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD NTB, Lalu Wirajaya, menyampaikan keprihatinannya atas banjir yang melanda Lombok Barat dan Lombok Tengah bagian selatan. Ia menilai penyebab banjir bersifat kompleks.
“Selain curah hujan tinggi, persoalan drainase yang tidak optimal dan sedimentasi sungai juga berperan besar. Sungai yang dangkal membuat air mudah meluap,” jelas Wirajaya.
Ia juga menyoroti kerusakan kawasan hutan di sekitar destinasi wisata, terutama di Mandalika dan Sekotong, yang di nilai memperburuk daya dukung lingkungan.
Pemda Diminta Perketat Izin Pembangunan
Terkait dugaan banjir akibat laju deforestasi, Wirajaya meminta pemerintah daerah lebih selektif dalam menerbitkan izin pembangunan.
“Saya kira ini harus di lakukan. Pembangunan harus mengedepankan kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Untuk penanganan jangka pendek, Wirajaya meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait segera turun tangan membantu warga terdampak, mulai dari BPBD, Dinas Sosial, hingga Dinas Kesehatan NTB.
“Kita bersyukur Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal langsung turun ke lokasi banjir. Penanganan cepat dan bantuan kepada korban harus menjadi prioritas,” tambahnya.
Ratusan Rumah Terendam di Lobar dan Loteng
Banjir besar tercatat melanda tiga desa di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, yakni Desa Persiapan Pengantap, Desa Persiapan Blongas, dan Desa Sekotong Tengah. Ratusan rumah warga terendam air, sementara akses jalan di beberapa titik mengalami kerusakan.
Di Lombok Tengah, banjir merendam dua desa di Kecamatan Praya Barat Daya, yaitu Desa Kabul dan Desa Montong Ajan. Selain permukiman, banjir juga merusak infrastruktur jalan dan fasilitas umum, sehingga mengganggu aktivitas warga.


