Mataram, insightntb.com – Amaq Abir, teater tradisional masyarakat Sasak di Desa Marong, Lombok Tengah, kembali jadi sorotan. Kesenian yang pernah berjaya di panggung nasional itu kini dikaji ulang sebagai media penguatan nilai Pancasila berbasis kearifan lokal.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Riset ini dilakukan oleh dosen Universitas Bumigora, Rapi Renda, lewat program Penelitian Dosen Pemula (PDP). Penelitian berlangsung Mei–Oktober 2025 di Sanggar Pustaka Budaya, Dusun Nyampe, Desa Marong, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah.

“Dalam setiap pementasannya ada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial,” tutur Rapi Renda, Jumat (5/12/2025).

Menurutnya, teater rakyat Amaq Abir ini menyimpan kekuatan naratif yang bisa jadi cara efektif membumikan Pancasila.

Bagi warga Marong, Amaq Abir bukan sekadar tontonan. Kesenian ini sudah lama dianggap sebagai identitas desa. “Amaq Abir dari dulu memang milik Desa Marong,” kata Lalu Sahudirman, pimpinan Sanggar Pustaka Budaya.

Ingatan warga soal Amaq Abir masih kuat. Para tetua di desa mengaku tradisi ini muncul dari kegemaran masyarakat bermain rebana. Dari kebiasaan itu, lahirlah ide untuk mencoba seni drama.

“Dari suka main rebana, muncul keinginan mencoba yang baru: bermain drama,” tutur Lalu Mahir, penilik kebudayaan yang ikut membina generasi awal Amaq Abir.

Sanggar Pustaka Budaya sendiri sudah berdiri sejak 1980-an. Sanggar ini di bangun oleh ayah Lalu Sahudirman dan diteruskan oleh dirinya hingga sekarang.

Meski sempat vakum sebelum 1999 karena tuntutan pembaruan dari masyarakat, sanggar tetap bertahan sebagai pusat kegiatan Amaq Abir.

Amaq Abir Tampil di Taman Mini

Perjalanan Amaq Abir sempat menembus panggung nasional. Pada 1991, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menugaskan Lalu Mahir menyiapkan kelompok seni tradisional dari Marong untuk tampil di Festival Nasional di Taman Mini Indonesia Indah.

Saat itu, pemain Amaq Abir sebagian besar sudah lanjut usia. Tapi setelah dikumpulkan kembali, mereka masih mengingat gerak dan alur ceritanya.

“Mereka semua ikut bermain, bahkan yang memerankan Putri Ayu juga laki-laki,” kata Lalu Mahir.

Amaq Abir tampil dan meraih juara satu. Meski sukses di tingkat nasional, panggung lokal tak otomatis hidup kembali.

Setelah pulang, Amaq Abir jarang dipentaskan untuk masyarakat. Muncul anggapan bahwa kesenian ini “milik pemerintah” karena kebanyakan tampil saat ada acara resmi.

Penulisan Naskah Amaq Abir

Pada 1999, naskah Amaq Abir untuk pertama kalinya di tulis secara konvensional. Penulisan naskah ini menjadi momen penting bagi keberlanjutan kesenian tersebut. Naskah memberi acuan bagi pemain muda untuk mempelajari karakter, gerak, dan dialog.

“Kalau tidak ada naskah, teater tradisional bisa hilang,” kata Lalu Mahir. Ia mencontohkan beberapa cerita lama seperti Gamelan Jago atau kisah Cupak Gerantang yang kini hilang karena tidak pernah di tuliskan.

Dengan naskah tertulis, Amaq Abir bisa di pelajari kembali oleh generasi muda. Sanggar Pustaka Budaya pun mulai membuka ruang regenerasi.

Di tengah arus modernisasi, Amaq Abir tetap bertahan di Dusun Nyampe. Lalu Sahudirman melatih anak-anak agar mengenal topeng, dialog, dan gerak khas pertunjukan.

Proses kreatif tetap berjalan, meski biasanya baru di mulai ketika ada undangan pentas atau kunjungan dari instansi pemerintah.

Menurut Sahudirman, sarana dan prasarana sanggar masih minim. Mulai dari fasilitas latihan hingga perlengkapan seni. Ia berharap pemerintah memperhatikan kebutuhan pelaku seni secara lebih serius.

Penguatan Ideologi

Penelitian Rapi memberi perspektif baru: seni tradisi bisa menjadi pintu masuk untuk menguatkan kembali nilai kebangsaan. Pancasila disampaikan bukan lewat ceramah, tetapi lewat cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Hasil penelitian ini di harapkan bisa menjadi rujukan akademik dan bahan ajar,” ujar Rapi.

Ia juga berharap kajian ini dapat membantu pemerintah daerah merancang kebijakan pelestarian budaya yang lebih berpihak pada komunitas.

Amaq Abir, yang tumbuh dari desa kecil di Lombok Tengah, kembali punya peluang untuk tampil lebih besar. Teater bagi Rapi bukan hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi sebagai ruang belajar nilai-nilai kebangsaan yang hidup dan relevan bagi masyarakat. (*)