Insightntb – Istilah 9 Naga sudah lama jadi buah bibir di Indonesia. Istilah ini merujuk pada para konglomerat etnis Tionghoa yang dianggap memiliki pengaruh besar dalam perekonomian sejak masa Orde Baru, bukan pada organisasi resmi atau kelompok formal. Nama mereka kerap muncul dalam obrolan seputar bisnis, politik, hingga ekonomi nasional. Tapi siapa sebenarnya 9 Naga itu? Bagaimana peran mereka dalam roda ekonomi Indonesia? Yuk kita bahas dengan gaya santai tapi tetap mendalam.
Apa Itu 9 Naga?
“9 Naga” adalah istilah simbolik, bukan nama resmi suatu organisasi. Masyarakat menggunakan istilah ini untuk menyebut segelintir pengusaha super kaya yang memiliki kerajaan bisnis raksasa, koneksi politik, serta akses luas ke jaringan global. Sejak era Orde Baru hingga sekarang, mereka terus mewarnai arah perekonomian nasional melalui kekuatan bisnis dan pengaruhnya.
Istilah 9 Naga menggambarkan simbol kekuatan, keberuntungan, dan kendali. Sebagaimana naga dalam budaya Tionghoa yang identik dengan penguasa elemen penting kehidupan.
Jumlah sembilan dipilih karena diyakini sebagai angka keberuntungan dan melambangkan kesempurnaan.
Daftar Nama yang Sering Disebut sebagai 9 Naga
Walau tak ada dokumen resmi, publik dan media kerap mengaitkan istilah 9 Naga dengan nama-nama berikut:
-
Robert Budi Hartono (Djarum Group)
Bersama saudaranya, Michael Bambang Hartono, ia dikenal sebagai orang terkaya di Indonesia. Bisnisnya meliputi rokok (Djarum), perbankan (BCA), hingga teknologi (investasi di Gojek dan startup lain). -
Anthony Salim (Salim Group)
Pewaris tahta Grup Salim, pemilik Indofood, Indomaret, Bogasari, hingga sektor infrastruktur. Jaringan bisnisnya merambah hampir seluruh aspek konsumsi sehari-hari rakyat Indonesia. -
Dato’ Sri Tahir (Mayapada Group)
Pendiri Mayapada Group, bisnisnya meliputi perbankan (Bank Mayapada), rumah sakit, properti, hingga media. Tahir juga dikenal sebagai filantropis kelas dunia. -
Aguan / Sugianto Kusuma (Agung Sedayu Group)
Raja properti di Jakarta dengan proyek-proyek besar seperti Pantai Indah Kapuk (PIK). Jaringan bisnisnya erat terkait dengan perkembangan properti dan kawasan elit. -
Tommy Winata (Artha Graha Group)
Sosok kontroversial dengan kerajaan bisnis di bidang perbankan, properti, hingga infrastruktur. Ia juga dikenal aktif dalam proyek sosial dan lingkungan. -
James Riady (Lippo Group)
Penerus Mochtar Riady di Lippo Group. Bisnisnya meliputi properti (Lippo Karawaci), pendidikan (UPH), rumah sakit (Siloam), dan ritel (Hypermart, Matahari). -
Rusdi Kirana (Lion Air Group)
Pendiri Lion Air, maskapai penerbangan terbesar di Indonesia. Perannya signifikan dalam membuka akses transportasi udara murah bagi masyarakat luas. -
Edwin Soeryadjaya (Astra International, Saratoga)
Anak William Soeryadjaya (pendiri Astra). Ia kini memimpin Saratoga Investama yang berinvestasi di infrastruktur, energi, dan berbagai sektor strategis.
Beberapa sumber juga kerap menambahkan nama lain seperti Prajogo Pangestu (Barito Pacific Group), tergantung konteks pembahasan.
(Sumber: Forbes Indonesia, https://www.forbes.com/)
Peran 9 Naga dalam Ekonomi Nasional
1. Penggerak Utama Ekonomi
Bisnis mereka menguasai sektor vital: pangan, perbankan, properti, transportasi, hingga energi. Tak heran jika keputusan bisnis mereka bisa berdampak besar pada ekonomi nasional.
2. Pencipta Lapangan Kerja
Jutaan orang bekerja di perusahaan-perusahaan milik kelompok ini. Indofood, Lippo, Lion Air, hingga BCA menjadi contoh nyata betapa besar kontribusi mereka dalam menyerap tenaga kerja.
3. Kontributor Pajak dan Investasi
Dengan skala bisnis raksasa, pajak yang mereka setorkan serta investasi yang mereka gulirkan menjadi salah satu penopang penting kas negara dan pembangunan.
4. Koneksi Global
Selain dampak 9 naga pada ekonomi nasional, banyak di antara mereka yang punya jaringan bisnis internasional. Hal ini membuat Indonesia lebih terhubung dengan arus modal global.
Banyak orang menganggap keberadaan 9 Naga sebagai pedang bermata dua: mereka mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memicu kekhawatiran terkait kesenjangan.
Kontroversi Seputar 9 Naga
-
Isu Monopoli: Dominasi mereka di sektor-sektor vital memicu perdebatan tentang persaingan usaha yang sehat.
-
Kedekatan dengan Politik: Beberapa pengamat menilai ada hubungan erat antara konglomerat dan elit politik, terutama pada masa kampanye.
-
Ketimpangan Ekonomi: Publik kerap menyoroti jurang yang semakin lebar antara konglomerat dan UMKM atau masyarakat kecil.
(Sumber: Kompas, https://www.kompas.com/)
Dampak bagi UMKM dan Rakyat Kecil
Kemudian Bagi UMKM, kehadiran 9 Naga bisa terasa menekan. Misalnya, jaringan minimarket besar sering dianggap menggerus pasar warung tradisional. Namun di sisi lain, ada juga peluang kemitraan: produk UMKM bisa masuk ke jaringan ritel besar atau mendapat akses pembiayaan dari bank milik grup besar.
Pelajaran dari Strategi Bisnis 9 Naga
Kita bisa mengambil banyak inspirasi dari cara mereka berbisnis sebagai berikut:
-
Diversifikasi usaha: Tidak terpaku pada satu bidang saja.
-
Adaptasi cepat: Berani masuk ke sektor baru seperti digital dan startup.
-
Membangun jaringan: Koneksi politik, bisnis, hingga internasional dijaga erat.
-
Branding kuat: Produk mereka dikenal luas masyarakat.
Strategi 9 Naga menunjukkan pentingnya visi jangka panjang, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan membaca tren.
Apakah 9 Naga Baik atau Buruk bagi Indonesia?
Jawabannya tidak hitam putih. Di satu sisi, mereka sangat berkontribusi pada pembangunan ekonomi. Di sisi lain, dominasi mereka menimbulkan kekhawatiran tentang pemerataan kesejahteraan. Solusinya ada pada regulasi yang ketat dan kebijakan yang berpihak pada UMKM serta masyarakat kecil.
Tidak ada organisasi resmi bernama 9 Naga. Istilah ini hanya sebutan populer untuk konglomerat besar Indonesia. Nama-nama seperti Robert Budi Hartono, Anthony Salim, Dato’ Sri Tahir, Aguan, Tommy Winata, James Riady, Rusdi Kirana, dan Edwin Soeryadjaya sering disebut. Mereka berperan besar sebagai penggerak ekonomi, pencipta lapangan kerja, serta penghubung Indonesia dengan modal global.
Selain itu, banyak pihak mengaitkan 9 Naga dengan politik, dan isu tersebut terus mencuat. Meskipun tidak mudah membuktikannya secara langsung, publik sudah mengetahui bahwa pengusaha besar memiliki kedekatan dengan elit politik. Mereka memperkuat kekuasaan ekonominya dengan melakukan diversifikasi usaha, cepat beradaptasi terhadap tren, menjaga jaringan yang luas, serta membangun merek yang kuat.
Membicarakan 9 Naga berarti membicarakan wajah ekonomi Indonesia: penuh dinamika, tantangan, sekaligus peluang. Kita bisa melihat sisi positif mereka sebagai penggerak ekonomi sekaligus tetap kritis terhadap dominasi yang berlebihan.

