Lombok Tengah, insightntb.com — Di bawah temaram cahaya obor, sekelompok warga Desa Aik Bual, Kecamatan Kopang, berjalan perlahan menyusuri kawasan hutan lindung di sekitar embung desa. Prosesi tersebut menandai pelaksanaan Bejambek, sebuah ritual adat yang di lakukan satu malam sebelum tradisi tahunan Bekerase di gelar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Bejambek merupakan tradisi permohonan izin kepada seluruh makhluk yang di yakini mendiami kawasan embung dan hutan sekitar. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, ritual ini menjadi penanda awal agar rangkaian Bekerase berjalan lancar dan terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan.

Secara etimologis, Bejambek berasal dari bahasa Sasak betabeq yang berarti permisi. Makna ini tercermin dalam seluruh rangkaian prosesi yang di lakukan secara hening dan penuh kehati-hatian. Ritual biasanya di mulai saat matahari terbenam, ketika cahaya mulai menghilang dan malam menyelimuti kawasan desa.

“Bejambek ini bukan sekadar ritual, tapi cara kami menghormati alam dan makhluk yang ada di dalamnya,” ujar Lalu Ziaq, warga Aik Bual yang turut mengikuti prosesi.

Tradisi Turun-temurun yang Terus di Lestarikan

Menurutnya, tradisi ini telah di lakukan secara turun-temurun dan tidak pernah di lewatkan sebelum Bekerase di laksanakan.

Dalam prosesi tersebut, peserta membawa berbagai seserahan adat seperti sirih (lekok lekes), empok-empok, mako, beras pati, buah-buahan, benang, serta empat jenis air yang di yakini memiliki makna simbolik, yakni air kopi, air gula, air teh, dan air putih. Seserahan ini menjadi bagian dari permohonan izin sekaligus simbol keseimbangan.

Lalu Ziaq juga menjelaskan bahwa Bejambek di laksanakan pada waktu tertentu karena berkaitan dengan keyakinan masyarakat.

“Kami percaya pada waktu itu semua makhluk, yang terlihat maupun tidak, sedang berkumpul. Maka perlu ada izin agar kegiatan Bekerase tidak mengganggu siapa pun,” katanya.

Prosesi di lakukan dengan berjalan bersama menuju hutan lindung di sekitar embung, hanya di terangi cahaya obor. Tidak ada musik maupun suara keras, karena keheningan di anggap sebagai bagian dari etika ritual.

Bagi masyarakat Aik Bual, Bejambek, Nyelametan, dan Bekerase merupakan satu kesatuan tradisi yang tidak terpisahkan. Ketiganya mencerminkan relasi antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang masih di jaga hingga kini.

Menariknya, tradisi ini juga di ikuti oleh generasi muda desa. Lalu Fudo, pemuda Aik Bual, mengaku keterlibatannya dalam Bejambek membuatnya lebih memahami budaya leluhur.

“Dulu saya cuma ikut-ikut. Sekarang saya paham maknanya, bahwa ini soal adab sebelum kita mengadakan acara besar,” tuturnya.

Di tengah modernisasi, tradisi Bejambek tetap menjadi ruang belajar budaya bagi masyarakat Aik Bual. Ritual ini bukan hanya pembuka Bekerase, tetapi juga pengingat bahwa setiap perayaan selalu diawali dengan penghormatankepada alam, tradisi, dan nilai kebersamaan.