Insightntb.com – ​Di balik gemerlap tempat wisata bernama Sunrise Land yang berlokasi di sebuah desa di Lombok Timur, ada luka yang menganga di hati para pemuda lokal disana . Mereka adalah para “arsitek lapangan” yang dulu menyapu pantai penuh sampah dan semak belukar, biasanya di pakai sebagai tempat bersembunyinya para pendosa.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Mereka menghapus kelam itu, merubahnya menjadi tempat yg indah dan mempesona. Lalu memperkenalkan potensi dan keindahan tanah kelahiran mereka ke dunia, saat tak ada satu pun pejabat yang melirik potensinya.

​Namun kini, saat tempat-tempat tersebut mulai “mempesona” dan berpeluang hasilkan cuan dari keuletan dan kerja keras mereka. Tangan-tangan kekuasaan datang menyapa, bukan untuk merangkul, melainkan untuk merampas dengan segala alasannya.

​Dulu, lokasi wisata ini hanyalah semak belukar tepi pantai yang terbengkalai. Dengan modal semangat mereka membangun, para pemuda lokal mengorbankan waktu dan tenaga demi sebuah mimpi: menciptakan kemakmuran untuk wilayahnya dan masyarakat sekitarnya. Membuktikan bahwa pemuda bukan sekadar penonton, melainkan motor penggerak ekonomi kerakyatan yang nyata.

​Sangat memilukan melihat kenyataan hari ini. Ketika hasil jerih payah nampak nyata. Pemerintah daerah justru datang dengan kebijakan yang terasa tak tahu diri. Ketika berunjuk rasa, bukannya mendapatkan solusi, malah yang di dapati sikap arogan yang menyakiti. Seolah dengan congkaknya berkata : “Kami punya kuasa, kalian bisa apa??? Terima kasih sudah lelah bekerja, sekarang silakan minggir karena kami ingin mengambil hasilnya.”