Insightntb, Lombok Timur – Puluhan pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam kolektif Extinction Rebellion (XR) Lombok, mendatangi lokasi tambang galian C di Desa Korleko, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Mereka datang untuk menyampaikan aspirasi mengenai dampak aktivitas pertambangan yang berlebihan di daerah tersebut. Mereka menilai eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan akan berdampak pada perubahan iklim dan krisis air bersih.
“Eksploitasi sumber daya alam melalui pertambangan galian C secara berlebihan akan berdampak pada perubahan iklim dan krisis air bersih bagi masyarakat lokal dan secara umum wilayah lain di Lombok akan berdampak,” kata Lalu Muhammad Guguh Putraji perwakilan XR Lombok kepada Jurnalis Insight NTB, Jumat (26/09/2025).
Pemerintah Buta dan Bungkam
Selama tiga belas tahun keberadaan tambang Galian C di Desa Korleko juga berdampak pada keruhnya air sungai yang menyebabkan irigasi pertanian di tempat tersebut menjadi terganggu.
Guguh juga menjelaskan bahwa beberapa tambang Galian C di Desa Korleko melanggar analisis dampak lingkungan (Amdal) dengan membuang limbah langsung ke daerah aliran sungai (DAS) Kali Rumpang, sehingga mencemari aliran sungai tersebut.
Guguh menegaskan bahwa pemerintah selama ini tampak abai terhadap dampak yang muncul akibat aktivitas tambang. Ia juga mendengar desas-desus tentang keterlibatan oknum aparat yang memiliki tambang. “Kemana mereka ketika terjadi pelanggaran Amdal?” ujar Guguh.
Andri, salah seorang warga Desa Korleko, menyampaikan bahwa masyarakat sudah sering melaporkan permasalahan yang mereka hadapi kepada pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Menurutnya pemerintah lebih berpihak kepada para pemilik tambang ketimbang masyarakat lokal setempat.
“Sudah sering kami demo, hearing juga ke DPR tapi tidak pernah ada solusi, kondisi air kami disini tetap keruh. Bahkan Bupati Lombok Timur lebih memilih berdialog dengan para penambang dan berjanji akan mempermudah izin tambang. Pemerintah berdalih ingin meningkatkan pendapatan daerah, tetapi tidak pernah mengajak warga terdampak untuk berdiskusi,” keluh Andri
Andri menyebutkan, lokasi galian C berada di sepanjang sungai kali Rumpang sehingga membuat petani setempat terganggu. Sumur-sumur warga menjadi kering disebabkan pori-pori sumur tersumbat oleh lumpur limbah dari galian C.
“Sumur-sumur warga di sini kering karena tersumbat pori-porinya. Hasil panen petani juga menurun karena kualitas air irigas yang tidak bagus karena bercampur lumpur dan batu karang,” beber Andri.
Pemuda dan Mahasiswa Menggelar Aksi di Lokasi Tambang

Mahasiswa membentangkan spanduk dan poster di lokasi galian C Desa Korleko, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur, NTB
Andri menuturkan, waktu dirinya masih anak-anak sebelum adanya tambang galian C di desanya. Masyarakat menjadikan kali Rumpang tempat mandi dan menjadi sumber air bersih, bahkan ikan dan kepiting juga banyak di kali tersebut.
“Tapi kalau sekarang untuk cuci kaki saja sepertinya kami tidak bisa disini karena sudah bercampur lumpur. Apalagi untuk mandi,” ucap Andri.
Pantauan di lokasi. Pemuda dan mahasiswa dari kolektif Extinction Rebellion (XR) Lombok melakukan orasi di lokasi galian C. Mereka membawa spanduk dan poster yang berisi tulisan penolakan dan desakan kepada Pemda untuk menghentikan aktivitas pertambangan.


