Opini, insightntb.com – Ada satu bahasa yang tidak memerlukan penerjemah. Tidak butuh kamus. Tidak terikat paspor, suku, mazhab, atau warna kulit. Ia langsung menembus dada bahasa kasih sayang, rahmah. Di saat dunia dipenuhi teriakan kepentingan, perdebatan identitas, dan kebisingan propaganda, bahasa ini tetap sunyi namun paling keras gaungnya di langit dan di hati manusia.
Ketika orang-orang tak bersalah terbunuh, ketika keluarga kehilangan sandaran hidupnya, ketika anak-anak belajar kata “takut” sebelum kata “harapan” di situlah kemanusiaan diuji. Bukan pada retorika. Bukan pada slogan. Tapi pada getaran batin: masihkah kita merasa?
Islam tidak dibangun di atas kekerasan hati. Ia dibangun di atas rahmah. Bahkan pembuka wahyunya dimulai dengan nama Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Itu bukan sekadar formula liturgis. Itu fondasi worldview. Cara memandang hidup. Cara membaca manusia. Cara merespons penderitaan.
Rahmah bukan emosi lemah. Rahmah adalah kekuatan moral tertinggi. Ia menahan tangan dari kezaliman, dan menggerakkan tangan untuk menolong.
Rahmah: Inti dari Cara Pandang Islam
Dalam pandangan Islam, manusia tidak berdiri sendiri. Setiap jiwa terhubung dalam jaringan makna yang dalam: sama-sama diciptakan, sama-sama bernapas, sama-sama rapuh, sama-sama berharap. Maka menyakiti satu jiwa tanpa hak adalah luka bagi kemanusiaan itu sendiri. Menolong satu jiwa adalah pemulihan bagi semesta batin kita.
Empati bukan aksesori akhlak ia inti akhlak.
Empati membuat kita tidak bertanya: “Dia dari kelompok mana?” tapi bertanya: “Dia manusia apa yang bisa aku lakukan?” Itulah lompatan dari identitas ke kemanusiaan. Dari label ke nilai. Dari ego ke nurani.
Ketika Hati Menjadi Tumpul
Bahaya terbesar zaman ini bukan hanya konflik. Tapi kebas rasa. Overexposure terhadap tragedi membuat sebagian jiwa kelelahan merasa. Berita menjadi angka. Korban menjadi statistik. Tangisan menjadi grafik.
Saat itulah kita perlu kembali ke fitrah. Fitrah manusia tidak diciptakan untuk dingin terhadap penderitaan. Anak kecil secara naluriah menangis saat melihat orang lain menangis. Itu desain ilahi. Empati adalah default setting ruhani. Yang membuatnya rusak adalah pembiasaan terhadap ketidakpedulian. Jika hati mulai tidak terusik itu bukan tanda kuat. Itu tanda harus pulang.
Kembali ke Indigenous: Kearifan Asal Manusia
Nilai-nilai indigenous kesejatian manusia sebelum terdistorsi oleh ambisi berlebihan selalu memuliakan kehidupan, kebersamaan, dan keseimbangan. Ada kesadaran bahwa hidup tidak berdiri di atas dominasi, tapi di atas relasi.
Dalam kesejatian fitrah: manusia tidak memandang penderitaan sebagai tontonan, tidak menjadikan luka orang lain sebagai komoditas wacana, tidak mengubah tragedi menjadi panggung pembenaran. Ia merespons dengan hadir. Dengan doa. Dengan bantuan. Dengan suara keadilan. Dengan pelukan jika bisa. Dengan air mata jika perlu. Kembali ke fitrah berarti mengaktifkan lagi sensitivitas batin yang jujur.
Romadhon dan Rekonstruksi Jiwa
Romadhon bulan latihan batin sebenarnya bukan hanya tentang menahan lapar. Ia adalah rekonstruksi sensitivitas. Saat perut ditahan, rasa diperhalus. Saat konsumsi dikurangi, kesadaran ditinggikan. Lapar mendidik empati. Haus mendidik kepedulian. Sunyi mendidik kejujuran.
Puasa memecah ilusi kemandirian palsu: bahwa kita baik-baik saja tanpa orang lain. Tidak. Kita saling terkait. Kita saling membutuhkan. Kita saling memikul amanah kemanusiaan. Jika setelah Ramadhan hati tetap keras terhadap jerit korban—maka yang berpuasa hanya tubuh, bukan kesadaran.
Empati Sebagai Tindakan, Bukan Sekadar Perasaan
Empati dalam Islam bukan berhenti di rasa iba. Ia harus menjelma menjadi aksi moral: membela yang tertindas, membantu yang terluka, menyuarakan yang dibungkam, menguatkan yang patah. Minimal dengan doa. Lebih baik dengan dukungan nyata. Lebih tinggi lagi dengan keberanian moral.
Indifference ketidakpedulian adalah bentuk kelelahan nurani. Dan nurani yang lelah harus dihidupkan kembali dengan dzikir, tafakur, dan keterlibatan kemanusiaan.
Freedom yang Berakar pada Rahmah
Kebebasan sejati bukan hanya bebas berbicara. Tapi bebas dari kebekuan hati. Bebas dari egoisme kolektif. Bebas dari kebiasaan menormalisasi penderitaan orang lain. Freedom tanpa compassion berubah menjadi dominasi. Compassion tanpa freedom menjadi bisu. Islam memadukan keduanya: kebebasan moral yang berlandaskan kasih sayang.
Menjaga Qolbu Tetap Hidup
Mari jaga hati agar tetap bisa bergetar. Karena selama hati masih bergetar, harapan masih hidup. Selama empati masih ada, peradaban belum runtuh. Jika kita tidak bisa menghentikan seluruh tragedi dunia, kita tetap bisa memastikan satu hal: hati kita tidak ikut menjadi bagian dari tragedi itu. Rahmah adalah bahasa lintas batas. Akhlak adalah paspornya. Fitrah adalah tanah airnya. Dan setiap jiwa yang kembali merasa telah pulang.


